9.18.2010

Cacat / kelainan pada tulang belakang ikan

 Cacat / kelainan tulang rangka paling sering dijumpai pada 2-6 vertebrae(ruas) tulang punggung. Skoliosis, kyphosis dan penggabungan dari beberapa vertebra sering diamati, tetapi jenis cacat yang paling banyak dijumpai adalah lordosis. Ikan yang cacat, tulang punggung menunjukkan bentuk V dengan banyak ataupun sedikit sudut.

Pada ikan yang tidak memiliki gelembung renang, cacat lordotic terutama berlokasi di vertebra 15 (dihitung dari ekor), sedangkan pada ikan yang memiliki gelembung renang cacat biasanya terjadi pada ruas ke 9. Otot-otot ikan biasanya berkembang sebagai akibat gerakan mekanis sirip saat berenang. Pada ikan dengan sirip abnormal cacat biasanya terjadi pada daerah tempat gelembung renang seharusnya berada.

Cacat tulang belakang dapat diamati dengan mikroskop pada ukuran larva sekitar 15-20 mm, yang sesuai dengan tahap di mana kalsifikasi tulang cukup maju. Untuk ikan yang lebih besar, untuk melihat kelainan pada tulang harus digunakan sinar-X.
  • Pada ikan tanpa swim bladder fungsional, cacat muncul 100% pada kedua jenis ikan.
  • Pada ikan yang memiliki swim bladder, cacat terjadi antara 0 sampai 100%.

Pengaruh lordosis pada ikan juga bervariasi sesuai dengan lokasi cacat tersebut:
  • Pada ikan ukuran 1 g (seabass) dengan gelembung renang fungsional, lordosis berkaitan dengan pertumbuhan yang lambat(tidak terukur), tetapi tampaknya tidak ada kematian yang disebabkan oleh cacat tersebut, Sudut bengkok nampak berkurang saat ikan tumbuh, meski tidak menghilang sepenuhnya.
  • Pada ikan tanpa gelembung renang fungsional, lordosis terkait dengan keterlambatan pertumbuhan dan kematian.Cacat bahkan cenderung ireversibel, dalam kasus inflasi akhir kantung udara (misalnya, antara 7 dan 54 gram dalam seabream gilthead).


 Dalam kedua kasus tersebut, kondisi lingkungan yang mendorong aktifitas renang ikan selama tahap pemeliharaan larva, yang mungkin disebabkan oleh sirkulasi air yang terlalu kuat, meningkatkan frekuensi lordosis. Pada ikan tanpa gelembung renang fungsional, kondisi ini juga meningkatkan sudut lordosis.

Sebuah review osteogenesis terkait dalam masalah ikan, Penyebab cacat pada tulang belakang ikan terutama disebabkan oleh kekurangan gizi atau oleh toksisitas beberapa unsur yang tertelan. Keduanya mempengaruhi tekstur tulang, terutama metabolisme kolagen, memodifikasi atau mengubah kalsium dan fiksasi fosfor. Contoh racun yang mendorong timbulnya cacat juga banyak, melibatkan logam berat dan pestisida, serta kelebihan dari beberapa metabolit atau vitamin.

Di antara kemungkinan penyebab cacat tulang belakang ikan seabass dan seabream gilthead, mekanisme yang melibatkan keracunan logam berat, gangguan lingkungan atau keterlibatan patogen harus dikecualikan karena terlalu banyak terkait dengan masalah lain yang sangat kompleks. Pada kenyataannya cacat rangka(tulang belakang) pada ikanterjadi pada banyak hatchery yang berbeda dan dalam kondisi pemeliharaan yang berbeda yang menunjukkan bahwa hal ini terjadi karena beberapa keadaan yang bisa dibilang luar biasa.

Oleh karena itu, harus ada faktor umum yang bekerja pada berbagai situasi dan kondisi lingkungan pemeliharaan. Kekurangan gizi tampaknya menjadi hipotesis yang lebih realistis karena teknik pemeliharaan (frekuensi pemberian pakan,jenis pakan, pakan alami, pakan buatan, dll) kurang lebih sama pada kebanyakan panti pembenihan. Dilihat lebih jauh, kekurangan vitamin C dan / atau kelebihan vitamin D yang beracun dapat menjadi hal yang paling mungkin. Vitamin C adalah salah satu agen utama dalam metabolisme kolagen, sebuah komponen penting dari jaringan tulang. Kekurangan vitamin C dengan mudah dapat dijelaskan karena kelarutan yang tinggi dalam air.

Hipotesis dari hypervitaminosis D juga menarik karena memperhitungkan penampilan calculosis kemih. Vitamin ini hadir dalam jumlah besar di minyak ikan yang digunakan untuk memperkaya rotifera dan udang untuk larva ikan laut, serta di perut ikan dan komponen pakan buatan yang digunakan pada tahap pembibitan. Minyak hati ikan tuna, misalnya, dapat berisi sampai 200 000 IU vitamin D dan minyak ikan hingga 500 IU per gram (1 International Unit = 0,025 ug dari D2 vitamin sebagai bentuk kristal).

Pada manusia, bentuk non-aktif D3 ditransformasikan ke dalam bentuk aktif 25-1-hydroxycolecalcipherol di ginjal. Jika transformasi ini tidak terjadi karena alasan patologis apapun, kekurangan fungsional muncul, meskipun jika vitamin diasumsikan melimpah dalam makanan. Sayangnya, bentuk aktif dari vitamin D dalam ikan masih belum diketahui.

9.15.2010

Beberapa kelainan yang dijumpai pada pemeliharaan larva.

      Cacat atau kelainan pada ikan hasil  budidaya tentunya merupakan suatu hal yang mesti dihindari pembudidaya. Ikan yang memiliki kelainan atau cacat meskipun tidak mengalami kematian akan tetapi akan mengalami kesulitan dalam pemasaran karena sangat jarang ada pembeli yang mau membelinya.
   
      Ada beberapa cacat atau kelainan yang dijumpai pada pemeliharaan larva ikan laut, terutama seabass dan sea bream, yang berkaitan erat dengan kinerja morphoanatomic dalam pemeliharaan larva, diantaranya adalah:
Cacat pada tulang ikan.
       Cacat pada tulang ikan yang paling umum mempengaruhi larva ikan seabass dan seabream, pada ikan stadia juvenil(yuwana) dan ikan dewasa biasanya terlihat pada rahang, insang, kepala dan tulang punggung.

Cacat pada larva yang baru menetas
       Sejumlah kelainan dapat pada larva ikan yang baru menetas, yang paling sering terlihat adalah tubuh larva yang terbentuk memutar. Larva ikan yang mengalami hal ini tidak akan bertahan lebih dari beberapa jam, atau paling bagus akan mati dalam beberapa hari. Kelainan ini dapat terjadi pada beberapa persen hingga keseluruhan populasi. Jika persentase cacat terjadi di atas 10% mungkin lebih baik membuang larva dan memulai dengan pemeliharaan larva yang baru.

       Asal-usul genetik dari anomali tersebut tidak dapat dibuktikan, sekalipun dalam budidaya ikan dapat dilakukan perkawinan silang. Sebagian ahli percaya bahwa kemungkinan penyebabnya adalah kondisi pemeliharaan yang kurang baik, khususnya dalam kaitannya dengan:
• kekurangan gizi di induk selama ovogenesis (yang paling mungkin);
• pencahayaan yang tidak memadai selama inkubasi;
• kepadatan telur berlebihan (yang mengarah ke stres mekanik dan pasokan oksigen yang terbatas);
• penanganan, salinitas atau guncangan termal;
• polutan di lingkungan pemeliharaan;
• campuran dari penyebab yang disebutkan di atas.

Kelainan bentuk rahang dan opercula
       Cacat dapat mempengaruhi baik rahang atas dan / atau mandibula, yang dapat berupa tidak lengkap atau menonjol.Sebuah operkulum atau keduanya dapat tidak muncul atau tidak lengkap, atau bahkan bengkok ke luar . Untuk ukuran larva 15-20 mm harus digunakan mikroskop untuk mendeteksinya. Untuk ukuran yang lebih besar dapat diamati secara visual. Rahang yang terdeformasi dapat diamati pada larva sejak menetas, sedangkan operkulum cacat tidak dapat dideteksi sebelum larva mencapai panjang 12 mm.

Lihat tulisan menarik lainnya di daftar isi/peta situs blog perikanan budidaya

Sumber:
FAO,Morphoanatomic and morphometric standards, www.fao.org.

Perkembangan gelembung renang (swim bladder) pada larva ikan laut

       Gelembung renang atau swim bladder adalah suatu organ pada ikan yang berbentuk kantong berisi gas yang berfungsi membantu ikan dalam mempertahankan keseimbangan posisinya dalam air. Di samping sebagai alat keseimbangan gelembung renang atau swim bladder juga difungsikan sebagai tempat beresonansi untuk menghasilkan atau menerima suara.
   
        Letak gelembung renang atau swim bladder pada ikan adalah antara tulang punggung dan bagian anterior dari saluran pencernaan ikan, dan terlihat seperti gelembung refraksi. Pada larva ikan laut, ukuran swim bladder bisa mencapai 20-30% dari total panjang ikan pada individu dengan ukuran lebih dari 40-50 mm. Ketika swim bladder tidak berfungsi akan terlihat seperti vesikel kecil transparan dengan ukuran tidak lebih dari 3% sampai 5% dari panjang total ikan. Ikan dengan gelembung renang yang tidak berfungsi akan mengalami kesulitan dalam berenang dan cenderung tenggelam sehingga mempengaruhi kemampuannya dalam mencari makanan. Dalam keadaan tidak sadar (pingsan) ikan dengan gelembung renang yang normal akan mengapung di air sedangkan ikan dengan gelembung renang yang tidak berfungsi atau tidak sempurna akan tenggelam.

     Inflasi awal kantung udara terjadi pada minggu-minggu awal kehidupan larva, Pada larva seabream gilthead ukuran 4-5 mm dan seabass 5,5-6,5 mm. Organ ini dapat diamati dengan transparansi di bawah mikroskop sampai dengan ukuran larva 15 mm. Untuk ukuran yang lebih besar bisa dilihat dengan menggunakan sinar-X.

       Inflasi awal kantung udara dipicu ketika larva menelan udara di permukaan air. Kehadiran film berminyak atau turbulensi berlebihan dalam tangki larva bisa menghambat inflasi dengan mencegah ikan untuk mencapai permukaan. Oleh karena itu dalam pemeliharaan larva ikan laut, penggunaan Skimmers mengambang yang menghapus setiap kotoran dan film permukaan berminyak diyakini akan dapat membantu larva dalam pembentukan gelembung renang atau swim bladder, Di samping itu penggunaan sirkulasi atau gerakan air lembut juga diperlukan untuk mencegah turbulensi berlebihan yang bisa menghambat usaha larva dalam pembentukan gelembung renang atau swim bladder. Tanpa tindakan pencegahan dasar, persentase larva yang tidak berhasil mengembangkan swim bladder-nya dapat mencapai 100%.

Gangguan pada gelembung renang atau tidak berkembangnya swim bladder pada larva ikan memiliki konsekuensi serius pada larva ikan, seperti:
  • Keterlambatan serius dalam pertumbuhan pada larva ikan. Beberapa hasil percobaan menunjukkan bahwa swim bladder yang tidak berkembang pada jenis ikan (seabream gilthead dan seabass), keterlambatan pertumbuhan (kerdil, berat badan rendah) pada larva ikan mencapai 20-30%  pada ukuran larva sekitar 10-15 mm (60 hari) dan populasi larva yang mengalami keterlambatan pertumbuhan mencapai lebih dari 50% pada ikan ukuran 30-50 g;
  • Deformitas tulang punggung (lordosis). Larva yang mengalami gangguan pada gelembung renangnya (gelembung renang atau swim bladder tidak berfungsi) beresiko mengalami gangguan dalam  pertumbuhan tulang belakangnya. Gangguan (cacat) pada pertumbuhan tulang belakang pada ikan yang tidak memiliki gelembung renang (gelembung renang tidak berfungsi)  muncul pada ukuran sekitar 20 mm pada larva ikan.
Lihat tulisan lain yang lebih menarik di peta situs/daftar isi blog perikanan budidaya

9.14.2010

Urinary calculosis, tanda awal rendahnya kualitas larva ikan.

Urinary calculi (batu saluran kemih) pada ikan dapat diamati dalam uretra atau kandung kemih. Batu saluran kemih ini biasanya terlihat seperti batu kecil berwarna kelabu atau kekuningan. Kadang-kadang mungkin terlihat berwarna kemerahan selama tahap larva. Batu saluran kemih ini pada dasarnya adalah kristal kalsium fosfat, Ca5(PO4). Urinary calculi pada ikan dapat diamati sejak larva baru menetas hingga ke tahap juvenile (yuwana). Pada larva ikan dengan ukuran panjang total larva sampai dengan 20 mm, batu pada saluran kemih dapat diamati di bawah mikroskop. Pada larva ikan dengan ukuran yang lebih besar atau yuwana hingga dewasa, batu saluran kemih hanya dapat dideteksi dengan menggunakan sinar-X.

Keberadaan urinary calculi atau batu saluran kemih ini diyakini terkait dengan stress pada larva ikan dan manajemen pemeliharaan yang buruk, akan tetapi tidak sampai mengakibatkan kematian. Frekuensi kehadiran batu dalam saluran kemih pada stok ikan bervariasi dari 0 sampai 30%. Dalam beberapa kasus tertentu, keberadaan urinary calculi ini mungkin bisa mencapai 60%.

Pada pemeliharaan larva ikan, adanya batu saluran kemih pada larva ikan dapat menjadi tanda awal rendahnya kualitas larva ikan yang dipelihara terkait dengan banyak faktor seperti manajemen pemeliharaan yang buruk, rendahnya kualitas air, kekurangan pakan dll. Pada ikan jenis seabream ketika hasil observasi memperlihatkan adanya batu saluran kemih melebihi 30% populasi pada hari-hari pertama (5 hingga 15 hari) adalah lebih baik untuk mengosongkan tangki dan memulai lagi pemeliharaan larva yang baru. Hal ini untuk menghindari kerugian yang lebih besar jika pemeliharaan dilanjutkan karena akan menghasilkan benih dengan kualitas buruk/cacat jika tidak terjadi kematian.

Urinary calculosis atau adanya batu pada saluran kemih ini merupakan salah satu kriteria morphoanatomic yang dapat diamati untuk menetukan kinerja atau performa morphologi dan anatomi dalam pemeliharaan larva ikan laut. Pada beberapa kasus urinary calculosis ini tidak menimbulkan kematian secara cepat. Setidaknya ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dalam dua minggu pemeliharaan tidak ditemukan korelasi antara keberadaan urinary calculi pada saluran kemih dengan tingkat kematian larva. Larva dengan urinary calculosis masih tetap bisa beraktifitas, atau berenang aktif dan  memangsa makanan. Meskipun demikian hasil penelitian tersebut tidak menyebutkan efek dari urinary calculosis ini pada pertumbuhan atau kelangsungan hidup ikan pasaca larva.

Jika dibandingkan dengan batu saluran kemih pada manusia, urinary calculosis ini tentunya merupakan suatu kelainan atau penyakit yang cukup serius jika tidak dilakukan penanganan secara tepat. Penanganan batu saluran kemih pada larva ikan yang dalam satu tangka pemeliharaan umumnya berjumlah cukup banyak tentunya memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Kalau pada manusia mungkin penangananya lebih mudah karena ukuran tubuh yang lebih besar dan bisa dilakukan per individu. Hal yang cukup sulit jika dilakukan dengan yang cara yang sama pada larva ikan

Sumber :
  • Incidence and composition of calculi in the urinary bladder of intensifely reared marine fish larvae. https://www.researchgate.net/publication/248886871_Incidence_and_Composition_of_Calculi_in_the_Urinary_Bladder_of_Intensively_Reared_Marine_Fish_Larvae
  • FAO(dalam bahasa inggris).

9.13.2010

Kinerja morphologi dan anatomi (morphoanatomic) pada pemeliharaan larva ikan laut.

Estimasi kinerja dalam pemeliharaan larva ikan laut bisa dilihat dari kriteria morphoanatomic yang mengacu pada kesesuaian pengembangan dan / atau kronologi perkembangan organ tertentu. Penilaian kriteria morphoanatomic larva ikan tersebut akan tergantung pada keberadaan standar penilaian yang secara akurat:
• menggambarkan aspek normal atau tidak normal dari organ-organ tertentu pada ikan,
• memperbaiki periode observasi yang dapat atau harus dilakukan,
• menunjukkan bagaimana hal itu harus dilakukan.

Pilihan terhadap suatu kriteria akan tergantung pada pentingnya konsekuensi kriteria tersebut pada kinerja pemeliharaan larva(frekuensi penampilan, efek terhadap pertumbuhan, ketahanan hidup, dll). Pada larva ikan laut jenis seabass atau grouper seperti kerapu, kualitas morphoanatomic terutama mengacu pada anomali yang mempengaruhi kandung kemih, gelembung renang (swim bladder), dan tulang ikan.

Dalam pemeliharaan larva ikan laut terkadang memang terjadi atau dijumpai beberapa kelainan pada larva ikan yang dipelihara. Kelainan pada larva tersebut dapat terjadi pada bentuk atau morfologi larva akan tetapi sering juga terjadi bagian dalam organ tubuh larva (kelainan anatomi). Kinerja atau performa dari morphologi dan anatomi larva tersebut yang disebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penentuan atau pengambilan keputusan dalam pemeliharaan larva. Misalnya saja jika pada fase awal larva ditemukan banyak larva yang bengkok atau badannya memutar maka bisa diambil keputusan untuk tidak melanjutkan kegiatan pemeliharaan larva karena larva bengkok biasanya akan mati dalam waktu singkat.

Pengamatan pada keadaan morphologi dan anatomi larva ini (bisa disebut sebagai kriteria morphologi dan anatomi /morphoanatomic). sebagian bisa dilakukan secara visual akan tetapi sebagian lagi mesti dilakukan dengan bantuan mikroskop ataupun radiasi sinar x. Pengamatan performa morphoanatomic larva menjadi penting untuk dilakukan pada kasus kasus dimana banyak kelainan yang dijumpai pada benih yang dihasilkan.

Beberapa kelainan pada benih mungkin tidak berakibat fatal seperti misalnya bengkok pada tulang belakang. Akan tetapi benih yang dihasilkan menjadi tidak layak untuk dibesarkan karena pada akhirnya akan menghasilkan ikan yang cacat atau bengkok yang akan sulit dipasarkan. Jika sudah demikian maka otomatis kerugian waktu dan biaya pemeliharaan akan semakin besar. Semakin dini kelainan tersebut bisa dideteksi maka penghentian proses budidaya bisa dilakukan secepatnya sehingga kerugian yang timbul pun akan lebih sedikit. Di sinilah pengamatan kriteria morphoanatomic larva menjadi penting untuk dilakukan. 

Lihat juga tulisan lainnya di peta situs/daftar isi blog perikanan budidaya

Sumber: www.fao.org