Tentang Ikan, Cara Budidaya Ikan, dan segala hal yang berhubungan dengan Perikanan dan Budidaya Perairan (Akuakultur)
Showing posts with label Perikanan. Show all posts
Showing posts with label Perikanan. Show all posts
3.07.2017
Ruang Lingkup Akuakultur
Untuk mengetahui ruang lingkup akuakultur dapat kita lihat dari berbagai sudut pandang. Ruang lingkup akuakultur ini bisa dibagi berdasarkan kegiatan, spasial, sumber air, zonasi dan posisi wadah produksi.
1. Ruang Lingkup Akuakultur Berdasarkan Kegiatannya
Anda tentu masih ingat tentang pengertian akuakultur. Kalau lupa bisa baca lagi tentang pengertian budidaya perikanan/budidaya perairan/akuakultur. Seperti kita ketahui orientasi akuakultur adalah untuk mendapatkan manfaat, hasil atau keuntungan. Hal ini berarti bahwa akuakultur adalah juga sebuah kegiatan bisnis, sehingga disebut juga akuabisnis (aquabusiness). Berdasarkan kegiatan yang dilakukan akuakultur atau akuabisnis ini meliputi beberapa bagian atau subsistem yaitu:
- Kegiatan pengadaan sarana dan prasarana produksi disebut juga subsistem pengadaan sarana dan prasarana produksi yang meliputi pengadaan prasarana seperti pemilihan lokasi, pengadaan bahan dan pembangunan fasilitas produksi, dan pengadaan sarana produksi seperti pengadaan induk, benih, pakan, obat -obatan, peralatan dan tenaga kerja.
- Kegiatan produksi atau subsistem proses produksi . Kegiatan produksi dalam akuakultur meliputi kegiatan mulai dari persiapan wadah budidaya, penebaran, pemberian pakan, pengelolaan lingkungan pemeliharaan, pengelolaan kesehatan hingga pemanenan
- Kegiatan penanganan pasca panen dan pemasaran atau subsistem pasca panen dan pemasaran. Kegiatan yang dilakukan meliputi peningkatan kualitas atau mutu produk yang dihasilkan, proses pengepakan dan distribusi produk hingga ke pelayanan terhadap konsumen
- Kegiatan pendukung atau subsistem pendukung. Kegiatan pendukung dalam akuakultur ini meliputi aspek hukum misalnya perundang - undangan dan kebijakan lainnya, aspek keangan misalnya tentang pembiayaan atau pembayaran dan juga aspek kelembagaan yang menyangkut akuakultur seperti asosiasi, koperasi, perbankan, perusahaan, lembaga birokrasi dan juga lembaga riset dan pengembangan akuakultur.
2. Ruang Lingkup Akuakultur Berdasarkan Spasial
Ruang lingkup akuakultur bisa juga dilihat berdasarkan spasial atau tempat, kedudukan atau posisi geografis pada bentang alam tempat berlangsungnya kegiatan akuakultur tersebut. Secara spasial kegiatan akuakultur meliputi kegiatan di pegunungan, perbukitan atau dataran tinggi, dataran rendah, pantai, muara, pesisir pantai,teluk, selat, terumbu karang hingga di laut lepas.
Semua kegiatan akuakultur tersebut tentunya dapat dilaksanakan selama tersedia sumber air yang memadai. Di daerah pegunungan misalnya sumber air bisa berasal dari sungai, mata air dan danau. Di dataran rendah sumber air bisa berasal dari sungai, sumur, danau, waduk dan rawa. di pesisir pantai sumber air bisa berasal dari sungai, sumur dan laut. Kegiatan akuakultur bisa juga dilakukan di laut dangkal hingga di laut lepas.
3. Ruang Lingkup Akuakultur Berdasarkan Sumber Airnya
Jika dilihat dari sumber air yang dipergunakan, budidaya perikanan atau akuakultur terdiri dari budidaya air tawar (freshwater culture), budidaya air payau (brackishwater culture) dan budidaya air laut (mariculture). Sesuai dengan namanya budidaya air tawar tentunya menggunakan air tawar dalam kegiatan produksinya. Demikian juga dengan budidaya air payau yang menggunakan air payau dan budidaya laut yang menggunakan air laut dalam kegiatan produksinya.
Karena menggunakan sumber air yang berbeda maka masing - masing kegiatan budidaya tersebut tentunya akan memelihara komoditas yang berasal dari habitat yang airnya memiliki kesamaan dengan sumber air yang digunakan dalam produksi budidaya yang dilakukan, atau setidaknya sudah beradaptasi dengan salinitas air yang dipergunakan dalam budidaya. Komoditas yang dipelihara pada budidaya air tawar adalah spesies yang di habitat aslinya memang hidup di air tawar seperti ikan lele, ikan gurame dll. Demikian juga komoditas yang dipelihara pada budidaya air payau adalah spesies yang berasal dari perairan payau seperti bandeng dan udang windu. Pada budidaya laut yang dipelihara adalah spesies yang berasal dari laut seperti ikan kerapu, ikan kakap dll.
Meskipun demikian ada juga beberapa spesies yang bersifat euryhaline, yakni memiliki toleransi pada salinitas dengan kisaran yang luas. Spesies seperti ini bias dipelihara dengan menggunakan sumber air yang berbeda beda. Contohnya seperti ikan bandeng. Ikan bandeng umumnya dipelihara di tambak berair payau akan tetapi bias juga dipelihara di karamba air laut, dan juga di kolam air tawar.
4. Ruang Lingkup Akuakultur berdasarkan zonasi darat - laut.
Jika akuakultur dilihat dari zonasi darat dan laut, maka akan terlihat bahwa ada kegiatan akuakultur yang dilakukan di darat (inland aquaculture) dan kegiatan akuakultur yang dilakukan di laut (marine aquaculture). Dalam kegiatan produksinya inland aquaculture bisa saja menggunakan air tawar, air payau dan juga air laut. Sebaliknya marine aquaculture karena dilakukan di laut maka air yang dipergunakan umumnya hanyalah air laut.
Pembagian zonasi darat-laut ini juga dikenal dalam perikanan tangkap sehingga ada yang disebut sebagai inland fisheries atau penangkapan di perairan umum dan marine fisheries atau penangkapan ikan di laut terbuka.
5. Ruang Lingkup Akuakultur berdasarkan posisi media produksinya
Berdasarkan posisi wadah /media untuk produksi budidaya, akuakultur meliputi kegiatan budidaya yang berbasiskan daratan (land-base aquaculture) dan budidaya perikanan yang berbasiskan perairan (water-base aquaculture).
Pada budidaya perikanan yang berbasis daratan (land-base aquaculture), wadah yang dilakukan dalam budidaya perikanan berada di darat dan air yang digunakan diambil dari sumber air yang ada di dekatnya. Sumber air yang digunakan bias saja berasal dari perairan tawar seperti sungai, maupun dengan mengambil air dari laut.
Pada budidaya perikanan yang berbasis perairan (water-base aquaculture), maka wadah budidaya berada langsung di atas perairan misalnya karamba atau karamba jarring apung. Wadah budidaya ditempatkan di perairan sehingga tidak perlu usaha memindahkan air dari sumber air ke wadah budidaya. Budidaya perikanan berbasis perairan ini bias dilakukan di perairan umum yang berair tawar misalnya di danau atau sungai dan bias juga di laut terbuka.
3.02.2017
Perikanan Budidaya di Indonesia
Perairan Indonesia yang sangat luas memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Akan tetapi peningkatan produksi perikanan Indonesia tidak bisa semata mata hanya diandalkan dari sektor perikanan tangkap. Potensi perikanan tangkap seberapapun besarnya akan terus berkurang jika dilakukan penangkapan terus menerus apalagi jika dilakukan secara berlebihan (over fishing). Dalam melakukan kegiatan penagkapan ikan sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan kesinambungan stok ikan yang ada di alam. Untuk itu peningkatan produksi perikanan bisa dilakukan dengan meningkatkan produksi dari sektor perikanan budidaya.
Perikanan budidaya di Indonesia juga memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Sektor perikanan budidaya ini jika dikelola dengan baik akan bisa digunakan sebagai motor penggerak perekonomian dan penyerap tenaga kerja. Potensi perairan yang bisa dikembangkan diantaranya adalah di perairan air tawar (sungai, danau, kolam), perairan payau (tambak) dan perairan laut (pantai dan laut lepas).
Potensi budidaya perairan di Indonesia,diantaranya potensi budidaya tambak dengan luas mencapai 2.963.717 hektare (ha). Dari jumlah potensi tersebut baru dimanfaatkan sekitar 657.346 ha atau 22,2%. Hal ini berarti, peluang untuk budidaya tambak masih bisa dikembangkan lagi hingga seluas 2.306.371 ha.
Potensi perikanan budidaya kolam di Indonesia memiliki potensi seluas 541.000 ha. Dari jumlah potensi budidaya kolam tersebut baru dimanfaatkan sebesar 24,4% atau sekitar 131.776 ha. Potensi budidaya perairan Indonesia di kolam ini masih ada peluang pengembangan seluas 409.324 ha.
Dari potensi perikanan budidaya Indonesia tersebut, peluang investasi dalam sektor budidaya perikanan di Indonesia baik di tambak maupun kolam masih sangat terbuka lebar. Perikanan budidaya Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.
Untuk jenis budidaya di perairan umum Indonesia memiliki potensi seluas 145.125 ha. Dari jumlah potensi budidaya perikanan di perairan umum tersebut yang baru dimanfaatkan mencapai luas 1.798 ha atau hanya sekitar 1,13% dari potensi yang dimiliki.
Indonesia juga memiliki luas lahan pertanian basah yang potensial untuk dikembangkan sebagai areal budidaya ikan sistem mina padi seluas 1.536.289 ha. Dari jumlah potensi perikanan budidaya sistem mina padi tersebut, pemanfaatannya baru seluas 156.193 ha atau 10,2% dari keseluruhan potensi yang dimiliki. Jumlah ini tentunya masih bisa dikembangkan hingga seluas 1.380.096 ha lagi.
Untuk potensi perikanan budidaya di Indonesia dari sector perikanan budidaya laut Indonesia memiliki potensi seluas 24.000.000 ha. Dari jumlah potensi perikanan budidaya laut tersebut yang baru termanfaatkan seluas 178.435 ha, atau hanya sekitar 0,74% dari potensi perikanan budidaya laut yang dimiliki. Hal ini berarti sektor perikanan budidaya laut di Indonesia masih memiliki peluang pengembangan hingga seluas 23.821.565 ha. Ini merupakan jumlah yang sangat besar yang jika mampu dikembangkan secara optimal akan bisa memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga peningkatan penerimaan bagi negara.
Menurut data hasil produksi perikanan budidaya yang dimiliki Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2014, realisasi produksi perikanan budidaya mencapai 14,5 juta ton, Hal ini jauh jauh lebih besar dari produksi perikanan tangkap yang sebesar 5-7 juta ton. Pada tahun 2015, produksi perikanan budidaya di Indonesia meningkat hingga mencapai kurang lebih 17,9 juta ton.
Pada tahun 2017 ini, produksi perikanan budidaya ditargetkan sebesar 22,79 juta ton, dan diharapkan meningkat pada tahun 2018 menjadi sebanyak 26,72 juta ton, dan pada pada tahun 2019 ditargetkan produksi perikanan budidaya di Indonesia mencapai 31,32 juta ton. Dari jumlah target produksi perikanan budidaya Indonesia tersebut, Produksi perikanan budidaya dari rumput laut ditargetkan sebesar 22,17 juta ton dan hasil perikanan budidaya berupa ikan ditargetkan sebesar 9,15 juta ton.
Dengan melihat jumlah potensi dan hasil produksi perikanan budidaya di Indonesia ini. Kita bisa melihat bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar terutama jika dilihat dari luas perairan lautnya yang sangat besar. Jika potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki ini bisa dimanfaatkan secara optimal tentunya akan mampu memberikan sumbangan yang cukup besar bagi kemajuan perekonomian Indonesia. Dari sektor kelautan dan perikanan Indonesia ini Indonesia memiliki beberapa komoditas unggulan diantaranya udang, rumput laut, ikan bandeng, patin, lele, nila, gurame, mas, kerapu, kakap putih, dan ikan-ikan lokal lain.
Dari sisi penerimaan pasar, hasil produksi komoditas budidaya perikanan Indonesia sangat banyak diminati di pasar global. Komoditas perikanan budidaya Indonesia memang diakui memiliki nilai ekonomis tinggi yang berorientasi ekspor sehingga banyak diminati oleh pasar luar negeri. Pasar ekspor tersebut masih memiliki peluang pengembangan yang masih sangat terbuka lebar.
Oleh karena itu pengembangan sektor perikanan dan Kelautan termasuk di dalamnya sektor perikanan budidaya di Indonesia merupakan sebuah keharusan. Hal ini sejalan dengan visi misi Kabinet Kerja Indonesia yaitu mendorong laut menjadi sumber ekonomi bangsa.
Dengan besarnya potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki seharusnya bisa dijadikan dorongan untuk lebih fokus dan serius meningkatkan produksi perikanan budidaya. Pengembangan sector perikanan dan kelautan harus dapat menjadikan Indonesia unggul dalam kualitas dan kuantitas produksi perikanan dibandingkan Negara lain, apalagi Negara yang memiliki luas lahan di sector perikanan yang jauh lebih kecil.
Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang sangat berarti dalam mengamankan hasil produksi perikanan tangkap yang banyak dicuri Negara lain. Hal ini juga harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas perikanan Indonesia baik perikanan tangkap dan perikanan budidaya sehingga. Segala potensi dan kekayaan alam yang dimiliki tersebut akan dapat termanfaatkan secara optimal sesuai dengan konsep blue economy.
7.17.2014
Inovasi Teknologi Perikanan
Definisi inovasi teknologi perikanan
Inovasi
adalah suatu ide, perilaku, produk, informasi dan praktek-praktek baru yang
belum banyak diketahui, diterima dan digunakan/diterapkan/dilaksanakan oleh sebagian
besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan
atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan
masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh
warga masyarakat.
Teknologi
adalah kumpulan berbagai kemungkinan produksi, teknik, metode dan proses yang
dapat merubah sumber daya menjadi sesuatu yang lebih baik,
efisien dan efektif, guna memenuhi kebutuhan
manusia.
Jadi Inovasi
teknologi perikanan dapat didefenisikan sebagai kegiatan manusia yang timbul dari
sesuatu ide dan praktik-praktik baru yang belum banyak diketahui dapat
mendorong terjadinya perubahan dalam kegiatan yang berhubungan dengan
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya yang dilaksanakan
dalam suatu bisnis perikanan.
Tujuan
inovasi teknologi perikanan adalah agar dapat mengembangkan usaha perikanan menjadi lebih
efektif, efisien, ekonomis, berdaya saing tinggi, ramah lingkungan dan
menghargai kearifan tradisi/budaya lokal.
Strategi yang dilakukan
dalam pengembangan teknologi perikanan adalah dengan melakukan hal-hal berikut :
- Penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan menyempurnakan teknologi yang telah ada untuk menghasilkan teknologi baru sesuai sumberdaya dan kemampuan setempat.
- Penelitian dan pengembangan untuk memilih, merencanakan, menerapkan dan menyempurnakan teknologi impor.
- Penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan teknologi yang super efisien,
- Inovasi teknologi yang mengarah pada eksplorasi jenis-jenis komoditas ekonomis/unggulan yang potensial (resources based strategy) serta penerapan pengelolaan usaha yang makin efisien dan menekan risiko.
- Inovasi teknologi kembali ke masa depan (back to the future)yaitu mempelajari/menganalisa kesalahan-kesalahan/kekurangan-kekurangan yang telah kita lakukan di masa lalu (back) untuk dijadikan panduan perbaikan di masa datang (to the future).
- Inovasi teknologi ramah lingkungan yaitu teknologi yang tidak mencemari lingkungan dan tidak berbahaya bagi makhluk hidup, disebut juga teknologi yang bersahabat dengan lingkungan.
- Inovasi teknologi yang efektif, efisien, ekonomis, biaya rendah (low cost technology) mampu dan berdaya saing tinggi di pasar global.
Lihat Daftar Isi/Peta Situs selengkapnya
9.21.2010
Partner Budidaya
Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya perikanan yang sangat besar karena memiliki perairan yang sangat luas, baik perairan umum air tawar maupun perairan berair asin di laut terbuka. Di samping itu Indonesia juga memiliki potensi perikanan budidaya yang sangat besar, dengan beragam spesies ikan air tawar maupun laut yang potensial untuk dibudidayakan di Indonesia. Akan tetapi hingga saat ini potensi yang dimiliki tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Ini bias dilihat dari produksi perikanan Indonesia ang masih ada di bawah Negara yang notabene potensi perikanannya jauh di bawah Indonesia. Contohnya produk ekspor ikan hias Indonesia justru lebih kecil dari Singapura yang luas wilayahnya sangat jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Negara Indonesia.
Pengembangan perikanan budidaya di Indonesia masih sangat lambat jika dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan negara yang potensi budidaya perikanannya lebih kecil dari potensi perikanan budidaya yang dimiliki Indonesia. Untuk itu diperlukan perhatian yang lebih serius terhadap pengembangan budidaya perikanan di Indonesia.
Dalam budidaya perikanan atau pertanian, pelaku budidaya dalam hal ini petani atau petani ikan/nelayan tidak mungkin bisa bekerja sendiri. Di samping perhatian dari pemerintah dalam bentuk kemudahan dalam regulasi atau perijinan dan juga kemudahan dan akses pada teknologi budidaya yang baik, pembudidaya juga memerlukan partner atau mitra dalam bekerja. Mitra pembudidaya bisa saja dalam hal permodalan ataupun pensuplai kebutuhan budidaya yang dilaksanakan. Untuk itu pembudidaya diharapkan untuk proaktif menjaga keharmonisan hubungan dengan para partnernya demi kelancaran usaha yang dilaksanakan. Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku dalam usaha budidaya saja. Dalam setiap usaha atau bisnis hubungan baik dengan relasi bisnis atau mitra kerja akan turut memberi andil dalam mencapai keberhasilan usaha yang dijalankan.
Pengembangan perikanan budidaya di Indonesia masih sangat lambat jika dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan negara yang potensi budidaya perikanannya lebih kecil dari potensi perikanan budidaya yang dimiliki Indonesia. Untuk itu diperlukan perhatian yang lebih serius terhadap pengembangan budidaya perikanan di Indonesia.
Dalam budidaya perikanan atau pertanian, pelaku budidaya dalam hal ini petani atau petani ikan/nelayan tidak mungkin bisa bekerja sendiri. Di samping perhatian dari pemerintah dalam bentuk kemudahan dalam regulasi atau perijinan dan juga kemudahan dan akses pada teknologi budidaya yang baik, pembudidaya juga memerlukan partner atau mitra dalam bekerja. Mitra pembudidaya bisa saja dalam hal permodalan ataupun pensuplai kebutuhan budidaya yang dilaksanakan. Untuk itu pembudidaya diharapkan untuk proaktif menjaga keharmonisan hubungan dengan para partnernya demi kelancaran usaha yang dilaksanakan. Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku dalam usaha budidaya saja. Dalam setiap usaha atau bisnis hubungan baik dengan relasi bisnis atau mitra kerja akan turut memberi andil dalam mencapai keberhasilan usaha yang dijalankan.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Peribudi juga ingin bisa menjadi partner atau mitra dalam berusaha meskipun hanya sekedar memberikan sedikit informasi yang diharapkan turut membantu para sahabat sekalian dalam mencapai keberhasilan. Apa yang ditulis dalam blog perikanan budidaya ini kiranya dapat nantinya membantu siapapun yang berniat untuk belajar tentang perikanan dan budidaya perikanan demi kemajuan perikanan dan kelautan Indonesia. Semoga.
Tulisan tulisan lain dapat dilihat di daftar isi/peta situs perikanan budidaya
Tulisan tulisan lain dapat dilihat di daftar isi/peta situs perikanan budidaya
9.02.2010
Potensi perikanan Indonesia
Kenapa hasil produksi perikanan budidaya Indonesia kalah dengan hasil produksi perikanan budidaya China? Pertanyaan ini haruslah segera dicari jawabannya. Jika kita lihat kembali data yang ada, potensi perikanan Indonesia khususnya perikanan budidaya Indonesia sebenarnya jauh di atas China jika dilihat dari ketersediaan lahan budidaya dan spesies komersial yang berhasil dibudidayakan. Peningkatan permintaan pasar domestik dan internasional terhadap produk perikanan juga cukup besar. Jadi seharusnya produksi perikanan Indonesia bisa mengungguli China
Jika kita menengok kembali ke masa lalu, pada tahun 1949, produksi perikanan Indonesia dari budidaya perikanan mampu mengungguli produksi perikanan budidaya China. Produksi perikanan budidaya Indonesia pada waktu itu mencapai 25 ribu ton sedangkan produksi perikanan budidaya China hanya 19 ribu ton. Namun, produksi perikanan budidaya China tahun 1980an mengalami lompatan besar. Bahkan hingga tahun 2004 produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan hingga mencapai 36,6 juta ton, sedangkan produksi perikanan budidaya Indonesia masih berkutat di angka 3,89 juta ton.
Kembali lagi jika dilihat dari potensi perikanan budidaya yang dimiliki, Indonesia jauh mengungguli China. Sebagai contoh, panjang garis pantai China hanya 32 ribu km, Sedangkan Indonesia memiliki panjang garis pantai lebih dari 95 ribu km. Contoh kedua, Perairan teluk di Negara Republik Rakyat China hanya 168 ribu ha, bandingkan dengan Indonesia yang memiliki perairan teluk hingga mencapai 4,2 juta ha.
Demikian juga dengan potensi perikanan budidaya air tawar. Luas sungai di China yang dapat digunakan untuk budidaya air tawar hanya 371 ribu ha, luas sungai di Indonesia yang bisa digunakan untuk usaha budidaya air tawar mencapai 5,9 juta ha. Belum lagi jika ditambah dengan 13,6 juta ha rawa yang sebagian masih dapat digunakan untuk budidaya ikan.
Jika keseluruhan potensi perikanan budidaya yang dimiliki Indonesia tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal separuhnya saja, produksi perikanan budidaya Indonesia sudah pasti akan mengungguli produksi perikanan budidaya China. Oleh karena itu perlu diupayakan pemanfaatan potensi perikanan budidaya tersebut untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya, terutama dari usaha budidaya ikan. Namun, patut diingatkan juga bahwa dalam pengembangan budidaya perikanan haruslah tetap menerapkan cara budidaya ikan yang baik agar memenuhi jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan agar sesuai dengan persyaratan pasar global.
Selain itu, pengembangan perikanan budidaya pada suatu kawasan harus tetap memperhatikan pelestarian lingkungan budidaya. Hal ini bukan hanya demi kewajiban untuk mewariskan lingkungan yang baik buat anak cucu kita, akan tetapi lingkungan budidaya yang baik juga akan memberikan kontribusi yang baik bagi peningkatan produksi perikanan budidaya secara berkelanjutan. Oleh karena itu pelestarian lingkungan harus menjadi prasyarat utama dalam pengembangan budidaya perikanan..
Selain itu, pengembangan perikanan budidaya pada suatu kawasan harus tetap memperhatikan pelestarian lingkungan budidaya. Hal ini bukan hanya demi kewajiban untuk mewariskan lingkungan yang baik buat anak cucu kita, akan tetapi lingkungan budidaya yang baik juga akan memberikan kontribusi yang baik bagi peningkatan produksi perikanan budidaya secara berkelanjutan. Oleh karena itu pelestarian lingkungan harus menjadi prasyarat utama dalam pengembangan budidaya perikanan..
Lihat juga tulisan lainnya di peta situs/daftar isi blog perikanan budidaya
Subscribe to:
Posts (Atom)