Jumat, 18 September 2015

Rasio Konversi Pakan

Prinsip dasar yang perlu diingat dalam melakukan pemberian pakan ikan yaitu ikan harus diberi makan yang tepat sesuai dengan kebutuhan makannya. Untuk itu petani dituntut untuk memiliki keterampilan dalam menilai secara tepat berapa banyak pakan yang akan diberikan pada ikan yang dibudidayakan. Dalam hal ini metode yang digunakan yaitu dengan melakukan penghitungan rasio konversi pakan (Feed Convertion Ratio / FCR) atau efisiensi pakan (Feed Efficiency / FE). 

Penghitungan rasio konversi pakan (FCR) atau efisiensi pakan (FE) sangat penting dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pakan ikan yang sudah diberikan dapat meningkatkan produktivitas ikan budidaya. Selain itu, perhitungan ini juga berfungsi untuk menghindari pemborosan dalam pemberian pakan.

Rasio konversi pakan (FCR) dihitung dari jumlah kilogram pakan yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram ikan. Sedangkan efisiensi pakan (FE) merupakan persentase dari berat ikan yang dihasilkan dibandingkan dengan berat pakan yang diberikan. Semakin rendah nilai FCR (mendekati 1) berarti semakin baik manajemen pakan yang diberikan. Sedangkan untuk FE berlaku kebalikannya yaitu semakin tinggi nilai FE (mendekati 100%) berarti semakin baik atau semakin efisien pemberian pakan yang dilakukan. 

Sebagai contoh jika ikan diberi pakan sebanyak 10 kg dan kemudian menghasilkan ikan dengan bobot 5 kg, maka FCR-nya adalah 10/5 = 2. Efisiensi pakan (FE) merupakan kebalikan dan FCR. Dari contoh di atas, maka FE-nya adalah 5/10 = 50%. FE dengan nilai di atas 50% dianggap baik. Ikan tidak bisa memiliki efisiensi yang sempurna (FE= 100% atau FCR=1). Misalnya jika ikan diberi pakan 5 kg tidak akan menghasilkan 5 kg daging, karena ikan membutuhkan energi untuk metabolisme, pemanasan tubuh, proses pencernaan, respirasi, rangsang syaraf, keseimbangan garam, berenang, dan aktivitas hidup lainnya. FCR akan sangat tergantung oleh jenis, ukuran dan aktivitas ikan, parameter lingkungan, dan sistem budidaya yang diterapkan.

Untuk menghasilkan efisiensi pakan yang baik maka pembudidaya mesti melakukan manajemen pemberian pakan yang baik pula. Saat ini telah banyak beredar di pasaran alat atau mesin pemberian pakan yang bisa digunakan pembudidaya untuk melakukan monitoring dan mengatur pemberian pakan.

Kamis, 17 September 2015

Dampak Pemupukan pada Kolam/Tambak

Pupuk merupakan bahan untuk meningkatkan konsentrasi nutrient tertentu dalam kolam/tambak. Dari segi bahan pembentuknya pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk organik dan pupuk anorganik.

Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan bahan organik atau sisa-sisa organisme misalnya tepung bungkil biji kapas atau kotoran ayam. Pupuk anorganik adalah pupuk yang tidak terbuat dari bahan organik akan tetapi terbuat dari sintesa bahan - bahan kimia. Jenis pupuk ini misalnya NPK, TSP dan lain lain. 

Dari segi bentuknya pupuk ada yang berbentuk cair dan butiran (granular). Pupuk cair memiliki kelebihan yaitu lebih mudah terserap karena akan langsung larut sehingga dampaknya akan lebih cepat terasa dibanding dengan pupuk yang berbentuk butiran (granular). 

Pemupukan adalah pemberian atau penambahan nutrient tertentu pada media dengan menggunakan pupuk. Pemupukan pada kolam atau tambak hendaknya dilakukan dengan memperhatikan suhu dan musim. Hal ini disebabkan karena efisiensi pemupukan sangat tergantung pada lingkungan, ketersediaan cahaya dan ketersediaan air. Pemupukan dengan pupuk cair akan lebih mudah diaplikasikan karena bisa langsung digunakan. Jika pupuk yang digunakan berbentuk butiran maka pupuk mesti dilarutkan terlebih dahulu. Pemupukan akan memberikan dampak positif dalm pemeliharaan ikan di kolam/tambak. 

Pemberian pupuk pada kolam atau tambak akan meningkatkan kandungan nitrogen dan fosfor sehingga merangsang pertumbuhan plankton. Fitoplankton merupakan dasar dari rantai makanan di kolam/tambak yang merupakan pakan alami bagi ikan. Fitoplankton akan menjadi makanan bagi hewan mikroskopis (zooplankton) dan insekta yang merupakan makanan bagi ikan ikan kecil. Ikan ikan kecil akhirnya menjadi makanan ikan yang berukuran lebih besar. Ketersediaan fitoplankton akan membuat rantai makanan pada kolam tetap terjaga sehingga pakan bagi ikan yang dipelihara pada kolam atau tambak juga tetap tersedia. 

Keberadaan fitoplankton pada kolam/tambak juga akan menimbulkan kekeruhan pada air. Hal ini akan menghambat penetrasi sinar matahari ke dasar kolam sehingga bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan tanaman air yang mengganggu. Pada tahap awal pemeliharaan ikan, benih ikan akan sangat membutuhkan pakan alami pada tahap awal perkembangannya. Pemupukan pada kolam/tambak akan menyebabkan pakan bagi benih ikan yang masih kecil ini tetap tersedia sehingga akan memberi dampak positif bagi tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih yang dipelihara. 

Pemupukan khususnya dengan pupuk anorganik juga bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan bakteri sehingga bermanfaat dalam pencegahan timbulnya penyakit pada ikan. Pemupukan pada kolam atau tambak yang dilakukan secara tepat kemungkinan besar akan dapat meningkatkan produksi, 3-4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan tambak/kolam yang tidak dipupuk. 

Selain dampak positif tersebut, pemupukan juga memiliki dampak negatif jika dilakukan secara tidak tepat.. Untuk itu pemupukan harus dilakukan secara tepat, untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkan. Pemupukan memerlukan biaya karena itu pemupukan yang tidak efisien hendaknya tidak dilakukan. Pemupukan tidak akan efisien jika dilakukan pada saat kolam dalam keadaan keruh karena untuk pertumbuhannya plankton memerlukan sinar matahari. Pada saat kolam sedang keruh maka sinar matahari tidak akan mampu menembus ke dalam kolam. Pemupukan juga tidak perlu dilakukan jika ikan yang ditebar dalam kepadatan rendah. Pemupukan pada saat tersebut hanya akan menambah biaya operasional saja.

Pemupukan memerlukan tenaga kerja dalam pelaksanannya. Jadi perlu dihindari pemupukan yang tidak efektif. Tenaga mungkin bisa dipakai untuk kegiatan lain yang lebih produktif. Pemupukan misalnya tidak perlu dilakukan pada pemeliharaan ikan lele. Ikan lele cukup diberi pakan tambahan saja. Pada kolam air deras juga tidak perlu dilakukan pemupukan karena pupuk akan segera hanyut terbawa arus.

Pemupukan bisa juga mengakibatkan pertumbuhan dari ikan ikan liar yang tidak diharapkan, karena justru menjadi kompetotor bagi ikan yang dibudidayakan. Pemupukan hendaknya tidak dilakukan pada saat kolam atau tambak sedang penuh dengan ikan ikan liar. Kolam atau tambak bisa dibersihkan terlebih dahulu dari ikan ikan liar, atau bisa dengan cara diracun. Pemupukan bisa juga mengakibatkan blooming algae atau ganggang. Untuk itu pemupukan hendaknya dilakukan dengan memperhatikan tingkat kecerahan dari kolam atau tambak.

Kesimpulannya pemupukan bisa memberi dampak positif bagi peningkatan produksi ikan di kolam atau tambak. Akan tetapi pemupukan harus dilakukan secara tepat sehingga dampak negatif pemupukan bisa dihindari.

Selasa, 15 September 2015

Tantangan Pengembangan Perikanan Budidaya di Indonesia

Meskipun negara kita memiliki potensi yang tinggi, yakni memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 81.000 km, akan tetapi tidak semua sumberdaya lahan pantai yang ada tersebut cocok, bahkan cukup banyak yang sulit dikembangkan untuk budidaya perikanan. Hal ini merupakan kendala lingkungan yang masih sering ditemui dalam pengembangan budidaya laut dan pesisir di Indonesia.   Seperti kita ketahui, masing-masing sistem budidaya memiliki batas-batas dan prasyarat tertentu untuk dapat dikembangkan. Tantangan yang lain datang dari perubahan kualitas lingkungan, termasuk kualitas air, yang mempengaruhi produksi;  dan kehadiran bencana alam seperti banjir dan tsunami. 

Selain mempertimbangkan kesesuaian tempat, pengembangan budidaya pantai juga perlu memperhatikan daya dukung lahan/lingkungan.  Pengembangan usaha yang melampaui daya dukung lingkungan dapat memunculkan berbagai dampak dan permasalahan.  Daya dukung lahan pantai untuk pertambakan misalnya, ditentukan oleh mutu tanah, mutu air, sumber (asin dan tawar), hidrooseanografi (arus dan pasang surut), topografi dan klimatologi daerah pesisir dan wilayah tangkapan hujan di daerah hulu.

Masalah lain muncul dari kerusakan-kerusakan lingkungan lahan budidaya akibat pengelolaan yang keliru, pencemaran lingkungan atau bencana alam. Keluhan yang kerap muncul terkait dengan pengelolaan lahan budidaya yang sembarangan adalah meningkatnya kesuburan perairan secara berlebihan (eutrofikasi) akibat pemupukan dan sisa pakan yang tidak terkonsumsi.  Dampak selanjutnya adalah terjadinya ledakan pertumbuhan ganggang dan fitoplankton yang tidak dikehendaki, bahkan kadang kala dapat merugikan usaha budidaya yang dilakukan.

Model dan Komoditas Perikanan Budidaya Laut

Berdasarkan tempat budidaya yang dilakukan, perikanan budidaya laut dapat digolongkan menjadi budidaya perikanan di laut dan budidaya perikanan laut yang dilakukan di darat (pesisir).  Budidaya perikanan di laut contohnya budidaya karamba jaring apung sedangkan budidaya yang dilakukan di darat adalah budidaya kolam beton dan tambak.

Usaha pertambakan merupakan bentuk yang paling dikenal, karena telah dilakukan dan dikembangkan sejak lama, baik secara tradisional maupun dengan cara-cara modern.  Demikian pula usaha budidaya dalam kolam-kolam beton terutama untuk kepentingan pembenihan (hatchery). Baru kemudian muncul pengembangan budidaya karamba jaring apung di laut, misalnya untuk mengembangkan budidaya kerapu, beronang dan kakap putih.

Model-model tersebut terus berkembang, dan kini muncul pula konsep sea farming, budidaya laut terpadu yang menggabungkan beberapa sistem budidaya di atas, seperti yang dikembangkan di Kepulauan Seribu.  Di antaranya meliputi:  (a) pembenihan (hatchery), (b) tambak laut (enclosure), (c) pen culture, (d) tambang apung (longline), (e) jaring-karamba laut (cage culture), dan (f) sea ranching di paparan terumbu.  Konsep sea farming didasarkan atas gagasan bahwa pemanenan ikan (dan biota laut lainnya) hanya dapat lestari apabila diimbangi dengan upaya restocking, yakni penyediaan dan pelepasan benih ke lokasi sea ranching. Jadi konsep ini terutama akan mengandalkan kondisi habitat perairan laut mulai dari garis pantai hingga terumbu karang. Pembenihan yang dilakukan terutama untuk mendukung pengembangan budidaya kelautan dan restocking.

Beberapa contoh komoditas yang menjadi unggulan dalam budidaya laut terpadu adalah sebagai berikut:
  • Ikan-ikan karang, seperti berbagai jenis kerapu (kerapu bebek, kerapu macan, kerapu lumpur dll), beronang, napoleon, kobia, kakap putih kakap merah dan bandeng.
  • Krustasea, seperti udang windu, udang vannamei, lobster, rajungan dan kepiting bakau.
  • Moluska, seperti tiram mutiara, lola, kerang abalon, kerang hijau dan kerang darah.
  • Rumput laut

Kamis, 10 September 2015

Pengapuran Tambak

Keasaman tanah merupakan masalah yang biasa muncul sehubungan dengan turunnya hasil pertanian, termasuk juga pada negara-negara maju. Keasaman tanah dapat terjadi dikarenakan kecepatan pelarutan yang tinggi, batuan induk yang tidak sesuai, dan beberapa hal yang jarang terjadi, seperti pengasaman kimia secara kontinu seperti pembubuhan ammonium sulfat dalam jumlah besar.

Pada areal pertanian yang sangat asam ion H+tidak cukup tinggi dan terdapat penambahan konsentrasi Al3+yang sangat beracun pada pH rendah, serta rendahnya tingkat pertukaran ion Ca2+. Masalah tersebut diatas pada umumnya ditangani dengan cara pemberian kapur (pengapuran).

Kondisi lahan yang asam tersebut juga bisa terjadi pada lahan tambak, sehingga perlu juga dilakukan pengapuran pada lahan tambak tersebut. Pengapuran pada lahan tambak dilakukan pada dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pemeliharaan. Pengapuran yang baik pada saat persiapan akan mempertahan stabilitas tanah dan air media budidaya selama masa pemeliharaan.

Pengapuran pada prinsipnya adalah memberikan logam Ca dan Mg kedalam tanah dengan tujuan:
1.Menambah unsur hara tanah,
2.Memperbaiki DMA (Alkalinitas
3.Menaikkan pH
4.Meningkatkan aktivitas Jasad Renik
5.Memperbaiki struktur tanah.

Pengapuran juga bertujuan untuk  meningkatkan pertumbuhan plankton baik fitoplankton maupun zooplankton serta kelekap atau lumut yang merupkan pakan alami untuk udang dan ikan.  Pengapuran tidak ditujukan langsung sebagai pakan bagi ikan dan udang tetapi digunakan untuk merangsang pertumbuhan pakan alami yang dapat digunakan sebagai pakan alami bagi ikan dan udang.

Adapun jenis kapur yang bisa digunakan yaitu:
1.Kapur pertanian/Kaptan,agricultural lime (CaCO3).
2.Dolomit (CaMg(CO3)2)
3.Kapur Tohor, quicklime(CaO)
4. kapur Silikat (CaSiO3)
5. Kapur Tembok (Ca(OH)2)

Kapur tersebut bisa dalam bentuk cair (liquid lime), serbuk atau padatan. Dosis kapur yang biasa digunakan adalah 2000 – 3000 kg /ha tergantung juga dengan keasaman lahan dan jenis kapur yang digunakan.

Potensi Perikanan Darat

Indonesia merupakan negara yang kaya akan potensi perikanan. Selain memiliki potensi perikanan laut yang besar Indonesia juga memiliki potensi perikanan darat yang cukup besar. Potensi perikanan darat (air tawar) dapat dibedakan atas potensi perikanan pada perairan umum, seperti danau, waduk, sungai dan rawa dan potensi perikanan kolam dan budidaya mina padi.             

Dari perairan umum terutama diproduksi berbagai jenis ikan tangkapan dari alam, dan baru beberapa dekade terakhir ini sebagian kecil telah dibudidayakan secara komersial.  Terutama dari waduk-waduk dan sebagian danau di Jawa dan Sumatera dalam rupa budidaya jaring-keramba apung untuk menghasilkan ikan-ikan mas (Cyprinus), nila (Tilapia) dan belakangan juga patin (Pangasius). Budidaya perikanan di perairan umum hampir sepenuhnya bergantung pada alam. Salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya perikanan di perairan umum adalah pengelolaan pemanfaatan perairan tersebut dengan baik.

Tidak seperti budidaya perikanan di laut, lahan untuk budidaya perikanan di darat lebih terbatas.  Sungai tak bisa dimanfaatkan untuk budidaya dalam skala besar, yang paling banyak dilakukan adalah karamba sederhana. Apalagi tingkat pencemaran air sungai saat ini relatif tinggi, jadi diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk meningkatkan kualitas budidaya perikanan di sungai. Danau dan waduk juga terbatas jumlahnya. Sedangkan untuk membangun kolam-kolam perlu tambahan investasi untuk pengadaan lahan dan biaya pembangunannya. Seperti halnya di bidang pertanian, peningkatan budidaya perikanan secara intensifikasi lebih diharapkan daripada budidaya perikanan dengan ekstensifikasi, mengingat keterbatasan lahan tadi. Disamping itu bisa juga diupayakan usaha tumpang sari misalnya ikan dan tanaman seperti minapadi, atau ikan dengan hewan ternak misalnya dengan ayam (dikenal dengan kolong ayam/longyam).

Pemilihan Pakan Ikan

     Dalam sistem produksi, pakan yang baik memegang peranan yang sangat penting dalam usaha memproduksi ikan yang sehat dan berkualitas tinggi. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari biaya produksi secara keseluruhan. Pakan ikan telah berkembang secara dramatis pada tahun- tahun terakhir ini dengan perkembangan baru yaitu pakan komersial yang seimbang dan merangsang ikan untuk tumbuh optimal dan sehat.Perkembangan spesies baru dalam budidaya juga telah diimbangi dengan perkembangan industri pakan yang baru untuk mengimbangi permintaan, untuk mendukung industri perikanan yang aman, sehat, dan berkualitas tinggi.
    
     Pemilihan pakan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas budidaya perikanan sekaligus dapat meingkatkan keuntungan. Jenis pakan ikan dapat berupa pakan alami dan buatan. Pakan alami adalah pakan hidup bagi larva ikan atau ikan konsumsi. Pakan alami dapat berasal dari jenis phytoplankton, zooplankton, invertebrata mikroskopik atau benatang renik lainnya. Jenis pakan alami yang dapat dimakan oleh ikan sangat bervariasi, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya.
 
     Benih ikan yang baru belajar mencari makan, pertama-tama yang mereka makan umumnya plankton (fitoplankton/zooplankton). Kemudian semakin bertambah besar ikannya, makanannya pun mulai berubah pula. Pakan hidup mengandung banyak serat, sehingga bagus untuk menjaga kesehatan pencernaan ikan. Pakan hidup juga dapat membantu ikan untuk memasuki masa kawin dan merangsang masa kawin.

    Pakan alami biasanya berasal dari jenis plankton, (fitoplankton maupun zooplankton). Dari jenis fitoplankton, misalnya Diatom. Dari jenis zooplankton, misalnya Rotifera, Cladocera.Diatom adalah ganggang (alga) suatu jasad renik yang termasuk dalam divisi Thallophyta, subdivisi Algae, kelas Diatomae. Jenis alga kelompok Diatomae banyak digunakan dalam usaha pembenihan udang. Hal ini disebabkan alga dari kelompok ini mudah dibudidayakan dan mudah dicerna oleh larva udang. Mengapa Diatomae mudah dicerna oleh larva udang? Karena kelompok Diatomae memiliki dinding sel yang tipis.
   
    Rotifera termasuk ke dalam kelompok zooplankton dalam filum Trochelminthes. Berge-raknya dengan cara Secara alami Rotifera memakan jasad-jasad renik yang lebih kecil dari dirinya, seperti ganggang renik, ragi, bakteri dan Protozoa. Cara mengambil makanan dilakukan dengan menggerakkan buIu-buIu getar pada koronanya sehingga menimbulkan arus air yang membawa serta makanannya tersebut ke dalam mulut

    Daphnia (1000 - 5000 mikron) biasa dikenal dengan nama kutu air termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Entomostraca, ordo Phylopoda, subordo Cladocera. Ciri khas kutu air ini adalah bentuk tubuhnya yang gepeng dari samping ke samping. Dinding tubuh bagian punggung membentuk suatu lipatan yang menutupi bagian tubuh, beserta anggota-anggota tubuhnya pada kedua belah sisinya, sehingga nampak seperti sebuah cangkang pada kerang-kerangan Mollusca. Di atas bagian belakang cangkang tersebut membentuk sebuah kantong. Kantong ini berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur.
 
     Artemia adalah udang-udangan primitif yang termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Branchiopoda, ordo Anostraca, familia Artemiidae. Secara alami, cara makan adalah dengan menyaring mangsanya , maka diperlukan makanan dengan ukuran partikel khusus, yaitu yang berukuran lebih kecil dari 60 mikron.
  
     Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dipabrik dengan bahan-bahan yang siap pakai. Persiapan pakan buatanharus komplit dan suplemental.Pakan yang dianggap komplit harus dapat menyediakan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kesehatan ikan secara optimal. Beberapa pembudidaya ikan menggunakan pakan komplit yang berisi protein yang dibutuhkan 18-50%; lemak 10-25%; karbohidrat 15-20%; abu kurang dari 8,5%, fosfor kurang dari 1.5%, air kurang dari 10%, dan sejumlah vitamin dan mineral. Jika ikan dipelihara dalam kepadatan tinggi di dalam ruangan (indoor) atau karamba secara terkontrol tidak dapat dibiarkan henya dengan pakan alami, melainkan harus meggunakan pakan buatan yang komplit. Sebaliknya pakan buatan yang tidak komplit, diberikan hanya sebagai rangsangan untuk pertumbuhan pakan alami (alga, insekta, dan ikan kecil) yang cocok untuk pemeliharaan ikan di kolam.Pakan tambahan tidak berisi komponen vitamin dan mineral, tetapi digunakan untuk memantu menyediakan protein, karbohidrat, dan atau lemak secara alami.

Kamis, 17 Juli 2014

Inovasi Teknologi Perikanan

Defenisi inovasi teknologi perikanan

 Inovasi adalah suatu ide, perilaku, produk, informasi dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan/diterapkan/dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat.

Teknologi adalah kumpulan berbagai kemungkinan produksi, teknik, metode dan proses yang dapat merubah sumber daya menjadi sesuatu yang lebih baik, efisien dan efektif, guna memenuhi kebutuhan manusia.

Inovasi teknologi perikanan dapat didefenisikan sebagai kegiatan manusia yang timbul dari sesuatu ide dan praktik-praktik baru yang belum banyak diketahui dapat mendorong terjadinya perubahan dalam kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya yang dilaksanakan dalam suatu bisnis perikanan.

Tujuan inovasi teknologi perikanan adalah agar dapat mengembangkan usaha perikanan menjadi lebih efektif, efisien, ekonomis, berdaya saing tinggi, ramah lingkungan dan menghargai kearifan tradisi/budaya lokal.

Strategi yang dilakukan dalam pengembangan teknologi perikanan adalah dengan melakukan hal-hal berikut :
  • Penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan menyempurnakan teknologi yang telah ada untuk menghasilkan teknologi baru sesuai sumberdaya dan kemampuan setempat.
  • Penelitian dan pengembangan untuk memilih, merencanakan, menerapkan dan menyempurnakan teknologi impor.
  • Penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan teknologi yang super efisien,
  • Inovasi teknologi yang mengarah pada eksplorasi jenis-jenis komoditas ekonomis/unggulan yang potensial (resources based strategy) serta penerapan pengelolaan usaha yang makin efisien dan menekan risiko.
  • Inovasi teknologi kembali ke masa depan (back to the future)yaitu mempelajari/menganalisa kesalahan-kesalahan/kekurangan-kekurangan yang telah kita lakukan di masa lalu (back) untuk dijadikan panduan perbaikan di masa datang (to the future).
  • Inovasi teknologi ramah lingkungan yaitu teknologi yang tidak mencemari lingkungan dan tidak berbahaya bagi makhluk hidup, disebut juga teknologi yang bersahabat dengan lingkungan. 
  • Inovasi teknologi yang efektif, efisien, ekonomis, biaya rendah (low cost technology) mampu dan berdaya saing tinggi di pasar global.

Rabu, 16 Juli 2014

Budidaya Rumput Laut

   

Rumput laut yang telah menjadi komoditas budidaya ada 2 jenis, yaitu Gracilaria spp dan Eucheuma spp. Dalam upaya meningkatkan kontribusi rumput laut terhadap pembangunan nasional maka pemerintah menetapkan strategi sebagai berikut :

1. Pengembangan secara bertahap di daerah potensial

2. Penyediaan bibit yang cukup dan berkualitas

3. Pembinaan yang intensif

4. Pendekatan sistem bisnis perikanan

Selama ini metode yang digunakan untuk budidaya rumput laut ada 3 macam, yaitu:
 
1. Metode lepas dasar dengan menggunakan patok-patok kayu

2. Metode rakit dengan menggunakan kerangka bambu

3. Metode tali rentang dengan menggunakan tali dan pelampung


Untuk budidaya dengan metode tali dan pelampung, dapat dilakukan dengan menggunakan botol air mineral bekas ukuran 600 dan 1500 ml. Penggunaan botol bekas ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain :

1. Murah dan mudah didapat

2. Memanfaatkan limbah

3. Tidak ada yang mencuri, karena harganya murah

Dalam teknik budidaya rumput laut, yang harus diperhatikan adalah tempat rumput laut mengapung tidak boleh tepat di permukaan air, melainkan harus berada pada kedalaman 10 – 15 cm di bawah permukaan air. Hal lain yang perlu mendapat perhatian selama masa pemeliharaan rumput laut adalah menjaga kebersihan rumput laut dari lumpur dan kotoran.

Salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan budidaya rumput laut adalah pemilihan lokasi. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut adalah faktor resiko, faktor pencapaian dan faktor ekologis. 

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan selama pertumbuhan rumput laut yaitu membersihkan lmpur dan kotoran yang melekat pada rumput laut, menyulam tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan, mengganti tali, dan pelampung yang rusak, serta menjaga tanaman dari serangan predator, seperi ikan dan penyu. 
  

Selasa, 15 Juli 2014

Plankton

Plankton pertama kali digunakan oleh Hensen pada tahun 1887. Dalam bidang perikanan, plankton dimaksudkan sebagai jasad-jasad renik yang melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak sedikit, dan selalu mengikuti arus

Banyak jenis hewan yang menghabiskan sebagian daur hidupnya sebagai plankton, khususnya pada tahap larva. Plankton kelompok ini disebut meroplankton karena setelah tahap dewasa berubah menjadi bentos atau berenang bebas sebagai nekton. Plankton yang sepanjang hidupnya tetap sebagai plankton disebut kelompok Holoplankton.
  
Plankton dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu: 

 
1. Fitoplankton (plankton nabati)
Fitoplankton adalah golongan plankton yang mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya. 


Karakteristik Fitoplankton, antara lain :
- membentuk sejumlah besar biomassa di laut tetapi yang termasuk fitoplankton hanya terdiri dari beberapa filum saja.
- Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik yaitu termasuk filum Chrysophyta (alga kuning-hijau) meliputi diatom dan kokolitofor
- Terdapat beberapa jenis alga biru-hijau (Cyanophita), alga coklat (Phaeophyta) dan Dinoflagellata (Pyrophyta). 
 

2. Zooplankton 
Zooplankton adalah golongan plankton yang tidak mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya. Sebagaimana hewan-hewan lain, zooplankton juga tidak dapat melakukan fotosintesis atau membuat makanannya sendiri. 

Karakteristik Zooplankton, antara lain :
- Jumlah jenis dan kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan fitoplankton.
- Ukuran sangat beragam, dari yang sangat renik sampai yang berdiameter lebih dari 1 cm.
- Sebagian hidup sebagai meroplankton dan sebagian hidupnya dalam bentuk plankton. 

Plankton, jika dikelompokan berdasarkan ukuran, adalah sebagai berikut: 
1. Makroplankton, ukurannya 200-2000 mikron
2. Mikroplankton, ukurannya 20-200 mikron
3. Nanoplankton, ukurannya 2-20 mikron
4. Ultra nannoplankton, ukurannya kurang dari 2 mikron.

Pada perairan bebas terkadang terjadi blooming plankton yang dapat berakibat kurang baik bagi organisme perairan. Beberapa jenis plankton ada yang bersifat toxic dan jika terdapat dalam kepadatan tinggi dapat menyebabkan kematian ikan. Kondisi ini disebut juga sebagai red tide atau Harmful algal blooms (HABs).

Blooming plankton juga dapat mengakibatkan turunnya kadar oksigen terlarut (DO) dalam perairan hingga ke batas konsentrasi yang dapat mengakibatkan kematian pada ikan. 

Selain itu blooming plankton juga dapat mengakibatkan kerusakan insang pada ikan.

Senin, 14 November 2011

Ikan Klon

Ikan klon betina (atas) dan jantan (bawah).
 
Ikan klon merupakan salah satu jenis ikan hias laut yang disukai banyak orang di dunia sebagai pengisi akuarium air laut. Ikan klon atau ikan badut sering juga disebut sebagai ikan klon biasa atau ikan nemo yang diambil dari nama tokoh dalam sebuah film. Dalam literatur berbahasa Inggris diantaranya disebut sebagai common clownfish atau false-clown anemone fish. Nama latin ikan klon adalah Amphiprion ocellaris (Cuvier, (1830) dalam McGrouther, M. 2010).  Ikan klon memiliki tubuh berwarna oranye/jingga dengan tiga belang/ban berwarna putih pada bagian kepala, badan dan pangkal ekornya.
Ikan klon betina memiliki ukuran tubuh yang lebih besar jika dibandingkan dengan ikan klon jantan.  Hal ini tidak terlepas dari sifat karakteristrik reproduksinya dimana ikan klon memiliki karakteristik reproduksi hermaprodit protandri. Hal ini berarti bahwa setiap individu ikan klon terlahir sebagai ikan jantan namun memiliki juga organ reproduksi betina yang belum berkembang. Seiring dengan pertambahan ukuran dan umurnya ikan jantan akan berubah menjadi ikan betina  (Berends, B.  2007) . Berikut adalah taksonomi ikan clown:
Species            : Ocellaris
Genus              : Amphiprion
Family             : Pomacentridae
Ordo                : Perciformes
Sub class         : Actinopterygii
Class                : Pisces
Sub phylum     : Vertebrata
Phylum            : Chordata
Kingdom         : Animalia
Menurut Soehartono(1985), pemijahan ikan klon di daerah tropis dapat terjadi sepanjang tahun, pemijahannya hanya berlangsung beberapa hari selama bulan terang. Sedangkan dalam pemeliharaan di akuarium diketahui bahwa ikan klon dapat memijah dengan frekuensi  rata-rata sebanyak 2 kali dalam sebulan (Suarsana, 2010).

Referensi:
Berends, B. 2007. Amphiprion ocellaris. http://bioweb.uwlax.edu/bio203/s2007/berends_bets/Amphiprion ocellaris .htm
McGrouther, M.  2010.  Animal species: False-Clown Anemonefish, Amphiprion ocellaris (Cuvier,1830).  http://australianmuseum.net.au/False-Clown-Anemonefish-Amphiprion-ocellaris-Cuvier-1830.
Suarsana, I K. 2010.  Teknik Pemeliharaan dan Pemijahan Ikan Clown (Amphiprion Ocellaris).  Prosiding Pertemuan Teknis Teknisi Litkayasa Kementerian Kelautan dan Perikanan (131-134).  Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Soehartono, L. 1985. Akuarium air laut. C.V Fajar Abadi. Jakarta.
    

Minggu, 13 November 2011

Pengembangan Perikanan Budidaya

Sebagai Negara kepulauan Indonesia memang memiliki potensi perikanan tangkap yang cukup besar. Akan tetapiperikanan budidaya harus tetap dikembangkan. Usaha budidaya perikanan diperlukan karena:

1. Kebutuhan akan hasil perikanan sangat tinggi, baik untuk kebutuhan pangan maupun non pangan. Jika dikembangkan dengan baik budidaya perikanan bisa menjadi alternatif pemenuhan pangan masyarakat dan juga sebagai sumber penghasilan.

2. Potensi lahan Yang cukup besar yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya perikanan.

3. Usaha penangkapan memiliki hambatan yang cukup besar karena penurunan stok ikan di alam juga karena adanya kenaikan biaya sebagai akibat dari naiknya harga BBM. Usaha budidaya justru memiliki kelebihan seperti; hasil panen dan komoditas yang bisa diatur, juga bisa dilakukan secara terpadu dengan kegiatan lain seperti mina padi dll.

4. Penangkapan ikan secara terus menerus untuk memenuhi kebutuhan akan ikan akan mengakibatkan terjadinya ”over fishing” yang berimbas pada penurunan populasi ikan, sehingga hasil tangkapan ikan akan terus berkurang. Penangkapan ikan secara terus menerus juga dihawatirkan akan mengakibatkan  beberapa species tertentu  akan mengalami kepunahan.  Untuk itu pengembangan perikanan budidaya merupakan salah satu strategi yang bisa ditempuh ditempuh dalam pembangunan perikanan nasional karena perikanan budidaya dapat dijadikan sebagai andalan produksi di masa depan untuk menggantikan peran perikanan tangkap. Hal ini sesuai dengan perkembangan produksi perikanan tangkap dunia yang menurut De Silva (2000) cenderung stagnan bahkan menurun, sebaliknya perolehan dari perikanan budidaya cenderung meningkat.


Untuk mengembangkan perikanan budidaya ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, yaitu:
* Faktor Sumberdaya Alam, seperti status dan letak tanah, ketersediaan air, kemiringan dll.
* Faktor biologi, misalnya benih ikan.
* Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, misalnya teknik pembuatan pakan, penanggulangan penyakit dll.
* Faktor sosial ekonomi dan budaya, misalnya kesukaan masyarakat akan spesies ikan tertentu, dampak atau adanya perubahan lingkungan karena adanya usaha budidaya.

Diantara faktor-faktor tersebut faktor sumber daya alam merupakan faktor yang terpenting dalam menentukan apakah di suatu tempat bisa dibuka suatu usaha budidaya perikanan atau tidak.


Referensi
De Silva, S.S. (2000). A Global Perspective of Aquaculture in The New Millenium. International Conference on Aquaculture in The Third Millenium (Book of Synopsis), 20-25 February, 2000 Bangkok, Thailand.

Rabu, 09 November 2011

Pengertian Budidaya Perikanan/Budidaya Perairan/Akuakultur


       Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut juga sebagai budidaya perairan atau akuakultur mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja tetapi juga organisme air lain seperti kerang, udang maupun tumbuhan air. Istilah akuakultur yang diambil dari istilah dalam Bahasa Inggris Aquaculture. Berikut definisi akuakultur menurut beberapa sumber.

    Akuakultur merupakan suatu proses pembiakan organisme perairan dari mulai proses produksi, penanganan hasil sampai pemasaran(Wheaton, 1977).

    Akuakultur merupakan upaya produksi biota atau organisme perairan melalui penerapan teknik domestikasi (membuat kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan), penumbuhan hingga pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi (Bardach, dkk., 1972).

       Akuakultur merupakan proses pengaturan dan perbaikan organisme akuatik untuk kepentingan konsumsi manusia (Webster’s Dictionary, 1990).

Sumber:
Bardach, J.E., Ryther, J.H., and W.L.Mc. Larney. (1972). Aquaculture . Birmingham, Alabama: Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn University
Wheaton, F.W. (1977). Aquacultural Engineering. New York: John Willey& Sons.
Webster’s New World Dictionary. (1990). College ed. New York: The World Publ. Co.

      

Senin, 18 Oktober 2010

Keuntungan Dan Kelemahan Penggunaan Pakan Alami Dan Pakan Buatan Dalam Budidaya Perikanan

Pakan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam budidaya perikanan. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari biaya produksi Pakan dapat digolongkan menjadi pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami adalah pakan hidup bagi larva ikan atau ikan konsumsi. Jenis pakan alami yang dimakan oleh ikan sangat bervariasi tergantung jenis ikan dan ukurannya. Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dipabrik dengan bahan-bahan yang siap pakai.

Penggunaan pakan yang sesuai akan mampu meningkatkan produktifitas dan keuntungan dalam budidaya perikanan serta mengurangi buangan ataupun dampak yang bisa ditimbulkan bagi lingkungan budidaya. Untuk dapat menentukan jenis pakan yang tepat perlu diketahui juga keuntungan dan kelemahan tiap jenis pakan yang akan digunakan.

KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN PENGGUNAAN PAKAN ALAMI

Keuntungan

Pakan alami dapat berasal dari jenis phytoplankton, zooplankton, invertebrata mikroskopik atau benatang renik lainnya. Pakan hidup mengandung banyak serat, sehingga bagus untuk menjaga kesehatan pencernaan ikan.
Pakan hidup juga dapat membantu ikan untuk memasuki masa kawin dan merangsang masa kawin.

Pakan alami umumnya juga mudah dicerna. Misalnya jenis alga kelompok diatomae yang banyak digunakan dalam usaha pembenihan udang. Diatomae mudah dicerna oleh larva udang karena kelompok Diatomae memiliki dinding sel yang tipis.

Beberapa jenis alga juga mudah dibudidayakan dan hanya memerlukan sedikit biaya produksi. Misalnya chaetoceros sp, clorella sp atau nanochloropsis oculata dari jenis fitoplankton dan rotifera atau daphnia dari jenis zooplankton. Oleh karena itu pakan alami bisa diproduksi sendiri.

Penggunaan pakan alami juga memungkinkan pemberian pakan yang lebih sedikit karena pakan alami dapat tumbuh dan berkembang dalam media budidaya. Selain itu pakan alami juga tidak menyebabkan penurunan kualitas air dan lingkungan budidaya.

Kelemahan


Beberapa jenis pakan alami, terutama dalam kegiatan perbenihan memerlukan penanganan lebih banyak dalam hal pemeliharaan atau perawatannya. Pakan alami jenis fitoplankton memerlukan pemupukan gar bisa tumbuh sedangkan pakan alami dari golongan zooplankton untuk bisa tumbuh memerlukan pakan yang umumnya berasal dari golongan fitoplankton.

Penggunaan pakan alami memerlukan waktu yang lebih lama karena untuk bisa menghasilkan pakan alami dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan memerlukan tenaga dan waktu untuk menumbuhkannya. Disamping itu, karena berupa makhluk hidup, pakan alami terkadang juga bisa mengalami kematian, sehinggaakan mengganggu kegiatan budidaya yang dilakukan.

KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN PENGGUNAAN PAKAN BUATAN


Keuntungan 

Berbeda dengan pakan alami, pakan buatan tidak memerlukan pemeliharaan. Pakan buatan yang diproduksi di pabrik dapat dibeli ketika diperlukan. Oleh karena tidak memerlukan pemeliharaan atau pun penumbuhan maka pekerjaan budidaya akan menjadi lebih ringan,waktu yang diperlukan lebih sedikit dan hemat tenaga kerja. 


Pakan buatan yang diproduksi di pabrik juga memiliki ukuran dan kandungan nutrisi yang beragam sehingga ukuran pakan dan kandungan nutrisinya bisa disesuaikan dengan jenis dan ukuran ikan 


Kelemahan 

Pakan buatan memerlukan lebih banyak biaya untuk pembeliannya, Kalaupun bisa diproduksi sendiri tentunya juga memerlukan biaya untuk bahan dan ongkos produksinya. Oleh karena tidak biasa terdapat di alam, Pakan buatan terkadang juga memerlukan adaptasi agar mau dimakan oleh ikan.

Pemberian pakan buatan memerlukan manajemen pemberian pakan yang baik agar agar tidak berlebihan sehingga pemberian pakan menjadi lebih efisien. Sisa pakan buatan yang tidak termakan oleh ikan bisa menurunkan kualitas air pemeliharaan. Sisa pakan buatan yang terlalu banyak juga mengakibatkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan budidaya yang pada gilirannya juga akan mengakibatkan penurunan produksi.

KESIMPULAN 

Tiap jenis pakan baik pakan alami maupun pakan buatan memiliki keuntungan dan kelemahan. Penggunaan jenis pakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan sarana produksi yang dimiliki. Kombinasi penggunaan dari keduanya juga di mungkinkan guna mencapai tingkat produksi yang paling optimum.

Pemeliharaan Larva Kerapu Bebek (Cromileptes Altivelis) Dengan Perbedaan Frekuensi Pemberian Minyak Ikan

Buletin teknik litkayasa akuakultur, volume 8 nomor 2 tahun 2009, (105-108)

PEMELIHARAAN LARVA KERAPU BEBEK (Cromileptes Altivelis) DENGAN PERBEDAAN FREKUENSI PEMBERIAN MINYAK IKAN

Oleh : I Komang Suarsana

ABSTRAK
       Percobaan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui frekuensi penggunaan minyak ikan yang optimal pada pemeliharaan larva kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang dipelihara. Pemeliharaan larva dilakukan dengan menggunakan bak fiber dengan volume 200L. Masing–masing bak diisi dengan larva yang baru menetas (D1) dengan kepadatan 10 ekor/L. Mulai hari pertama (D1) pada permukaan air pemeliharaan diberi minyak ikan sebanyak 0,1 mL/m2, dengan frekuensi yang berbeda, yaitu : A) 1 kali, B) 2 kali, C) 3 kali, D) 4 kali, dan E) tanpa minyak. Masing–masing dilakukan dengan 3 kali ulangan. Minyak diberikan hingga larva berumur 6 hari, pemeliharaan dilakukan hingga berumur 15 hari. Hasil pemeliharaan menunjukkan bahwa pertumbuhan larva pada tiap perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, sedangkan pertumbuhan panjang larva (TL) pada masing-masing perlakuan berturut-turut adalah; (A) 1,52mm, (B) 2 mm, (C) 1,69 mm, (D) 1,62 mm dan (E)1,72 mm. Sintasan larva menunjukkan perbedaan yaitu ; (A) 25%, (B) 24.5%, (C) 34.5% dan (D) 29.1% lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan E yaitu 8%. Perlakuan C memiliki sintasan yang paling tinggi.


KATA KUNCI : kerapu bebek, larva, minyak ikan