Tentang Ikan, Cara Budidaya Ikan, dan segala hal yang berhubungan dengan Perikanan dan Budidaya Perairan (Akuakultur)
3.02.2017
Perikanan Budidaya di Indonesia
Perairan Indonesia yang sangat luas memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Akan tetapi peningkatan produksi perikanan Indonesia tidak bisa semata mata hanya diandalkan dari sektor perikanan tangkap. Potensi perikanan tangkap seberapapun besarnya akan terus berkurang jika dilakukan penangkapan terus menerus apalagi jika dilakukan secara berlebihan (over fishing). Dalam melakukan kegiatan penagkapan ikan sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan kesinambungan stok ikan yang ada di alam. Untuk itu peningkatan produksi perikanan bisa dilakukan dengan meningkatkan produksi dari sektor perikanan budidaya.
Perikanan budidaya di Indonesia juga memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Sektor perikanan budidaya ini jika dikelola dengan baik akan bisa digunakan sebagai motor penggerak perekonomian dan penyerap tenaga kerja. Potensi perairan yang bisa dikembangkan diantaranya adalah di perairan air tawar (sungai, danau, kolam), perairan payau (tambak) dan perairan laut (pantai dan laut lepas).
Potensi budidaya perairan di Indonesia,diantaranya potensi budidaya tambak dengan luas mencapai 2.963.717 hektare (ha). Dari jumlah potensi tersebut baru dimanfaatkan sekitar 657.346 ha atau 22,2%. Hal ini berarti, peluang untuk budidaya tambak masih bisa dikembangkan lagi hingga seluas 2.306.371 ha.
Potensi perikanan budidaya kolam di Indonesia memiliki potensi seluas 541.000 ha. Dari jumlah potensi budidaya kolam tersebut baru dimanfaatkan sebesar 24,4% atau sekitar 131.776 ha. Potensi budidaya perairan Indonesia di kolam ini masih ada peluang pengembangan seluas 409.324 ha.
Dari potensi perikanan budidaya Indonesia tersebut, peluang investasi dalam sektor budidaya perikanan di Indonesia baik di tambak maupun kolam masih sangat terbuka lebar. Perikanan budidaya Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.
Untuk jenis budidaya di perairan umum Indonesia memiliki potensi seluas 145.125 ha. Dari jumlah potensi budidaya perikanan di perairan umum tersebut yang baru dimanfaatkan mencapai luas 1.798 ha atau hanya sekitar 1,13% dari potensi yang dimiliki.
Indonesia juga memiliki luas lahan pertanian basah yang potensial untuk dikembangkan sebagai areal budidaya ikan sistem mina padi seluas 1.536.289 ha. Dari jumlah potensi perikanan budidaya sistem mina padi tersebut, pemanfaatannya baru seluas 156.193 ha atau 10,2% dari keseluruhan potensi yang dimiliki. Jumlah ini tentunya masih bisa dikembangkan hingga seluas 1.380.096 ha lagi.
Untuk potensi perikanan budidaya di Indonesia dari sector perikanan budidaya laut Indonesia memiliki potensi seluas 24.000.000 ha. Dari jumlah potensi perikanan budidaya laut tersebut yang baru termanfaatkan seluas 178.435 ha, atau hanya sekitar 0,74% dari potensi perikanan budidaya laut yang dimiliki. Hal ini berarti sektor perikanan budidaya laut di Indonesia masih memiliki peluang pengembangan hingga seluas 23.821.565 ha. Ini merupakan jumlah yang sangat besar yang jika mampu dikembangkan secara optimal akan bisa memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga peningkatan penerimaan bagi negara.
Menurut data hasil produksi perikanan budidaya yang dimiliki Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2014, realisasi produksi perikanan budidaya mencapai 14,5 juta ton, Hal ini jauh jauh lebih besar dari produksi perikanan tangkap yang sebesar 5-7 juta ton. Pada tahun 2015, produksi perikanan budidaya di Indonesia meningkat hingga mencapai kurang lebih 17,9 juta ton.
Pada tahun 2017 ini, produksi perikanan budidaya ditargetkan sebesar 22,79 juta ton, dan diharapkan meningkat pada tahun 2018 menjadi sebanyak 26,72 juta ton, dan pada pada tahun 2019 ditargetkan produksi perikanan budidaya di Indonesia mencapai 31,32 juta ton. Dari jumlah target produksi perikanan budidaya Indonesia tersebut, Produksi perikanan budidaya dari rumput laut ditargetkan sebesar 22,17 juta ton dan hasil perikanan budidaya berupa ikan ditargetkan sebesar 9,15 juta ton.
Dengan melihat jumlah potensi dan hasil produksi perikanan budidaya di Indonesia ini. Kita bisa melihat bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar terutama jika dilihat dari luas perairan lautnya yang sangat besar. Jika potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki ini bisa dimanfaatkan secara optimal tentunya akan mampu memberikan sumbangan yang cukup besar bagi kemajuan perekonomian Indonesia. Dari sektor kelautan dan perikanan Indonesia ini Indonesia memiliki beberapa komoditas unggulan diantaranya udang, rumput laut, ikan bandeng, patin, lele, nila, gurame, mas, kerapu, kakap putih, dan ikan-ikan lokal lain.
Dari sisi penerimaan pasar, hasil produksi komoditas budidaya perikanan Indonesia sangat banyak diminati di pasar global. Komoditas perikanan budidaya Indonesia memang diakui memiliki nilai ekonomis tinggi yang berorientasi ekspor sehingga banyak diminati oleh pasar luar negeri. Pasar ekspor tersebut masih memiliki peluang pengembangan yang masih sangat terbuka lebar.
Oleh karena itu pengembangan sektor perikanan dan Kelautan termasuk di dalamnya sektor perikanan budidaya di Indonesia merupakan sebuah keharusan. Hal ini sejalan dengan visi misi Kabinet Kerja Indonesia yaitu mendorong laut menjadi sumber ekonomi bangsa.
Dengan besarnya potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki seharusnya bisa dijadikan dorongan untuk lebih fokus dan serius meningkatkan produksi perikanan budidaya. Pengembangan sector perikanan dan kelautan harus dapat menjadikan Indonesia unggul dalam kualitas dan kuantitas produksi perikanan dibandingkan Negara lain, apalagi Negara yang memiliki luas lahan di sector perikanan yang jauh lebih kecil.
Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang sangat berarti dalam mengamankan hasil produksi perikanan tangkap yang banyak dicuri Negara lain. Hal ini juga harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas perikanan Indonesia baik perikanan tangkap dan perikanan budidaya sehingga. Segala potensi dan kekayaan alam yang dimiliki tersebut akan dapat termanfaatkan secara optimal sesuai dengan konsep blue economy.
2.28.2017
Cara Budidaya Ikan YUMINA, Ketika Sayuran dan Ikan Tumbuh Bersama
Dalam budidaya ikan sudah barang tentu yang diinginkan adalah produksi ikan yang bagus baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Namun tahukah anda bahwa ada cara budidaya ikan yang tidak hanya menghasilkan ikan akan tetapi juga bisa menghasilkan produk lain yaitu sayuran?
Ya, cara budidaya ikan ini dikenal dengan nama YUMINA yang merupakan kependekan dari saYUran dan MINA yang berarti ikan. Cara Budidaya ikan YUMINA ini memang tidak hanya menghasilkan ikan akan tetapi juga sayuran sebagai produk sampingannya.
Selain YUMINA adalagi cara budidaya ikan yang masih sejenis yang disebut BUMINA yang diambil dari kata BUah dan MINA. Cara budidaya ikan YUMINA dan BUMINA ini tentunya akan memberikan nilai tambah bagi petani pembudidaya ikan. Apalagi dalam ketidakpastian cuaca akibat global warming sering ditemui kendala dalam produksi sayuran. Sekarang ini saja kita sedang dihadapkan dengan persoalan mahalnya harga cabai akaibat produksi cabai yang kurang bagus.
Cara Budidaya ikan YUMINA dan BUMINA ina sebenarnya merupakan cara budidaya ikan tumpang sari diman dalam satu kegiatan budidaya dihasilkan dua atau leih produk. Ikan yang dipelihara dalam kolam dan sayuran atau buah yang dipelihara di atas atau pinggir kolam. Cara budidaya ikan YUMINA dan BUMINA ini mengkombinasikan pemeliharaan ikan dengan pemeliharaan buah atau sayuran sitem hidroponik.
Dalam cara budidaya ikan yumina dan bumina, tanaman dipelihara secara hidroponik, dimana tanaman tidak ditanam dalam media tanah akan tetapi lebih banyak menggunakan air secara langsung atau ditambah dengan media non tanah seperti kerikil, arang atau akar pakis. Media tanam dan akar tanaman, mendapatkan suplai air dari kolam ikan yang tentunya juga mengandung unsur hara dari kotoran ikan yang dipelihara. Dengan melewatkan air kolam ke wadah pemeliharaan tanaman, petani akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus yaitu:
- Memberikan air dan unsur hara pada tanaman. Air kolam yang mengandung kotoran ikan akan menjadi pupuk yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman sayur/buah yang dipelihara
- Menyaring air kolam menjadi lebih bersih. Media tanam dan akar tanaman akan sekaligus berfungsi sebagai filter yang menyaring air kolam sehingga air yang sudah terlewat akan memiliki kualitas air yang lebih bagus bagi pertumbuhan ikan yang dipelihara
Cara budidaya ikan yumina dan bumina ini dapat diaplikasikan dalam berbagai model wadah, baik itu akuarium maupun kolam, baik itu wadah berbentuk bulat atau persegi. Syarat utamanya tentu saja adalah ada pompa dan sumber listrik yang digunakan untuk menyedot air dari kolam dan mengalirkannya ke wadah pemeliharaan tanaman. Wadah pemeliharaan tanaman juga dapat dibuat dari berbagai bahan. baik itu ember, pipa pvc dan lain lain yang penting tentu saja ada saluran pembuangan dari wadah yang akan mengalirkan air kembali ke kolam ikan. Jadi air dari kolam disedot dengan pompa, masuk dari bagian atas wadah pemeliharaan tanaman dan keluar dari bagian bawah wadah mengalir kembali ke dalam kolam.
2.26.2017
Berbagai Cara Budidaya Ikan Lele yang Perlu Anda Ketahui
Ada berbagai cara budidaya ikan lele yang bisa anda pilih untuk dilaksanakan. Pemilihan cara budidaya ikan lele ini akan sangat tergantung pada sumber daya yang anda miliki, misalnya ketersediaan lahan dan juga permodalan.
Sebenarnya ada tiga model atau jenis usaha budidaya ikan lele yang bisa dilakukan yaitu:
- Pembenihan ikan lele
- Pembesaran ikan lele
- Pembenihan sekaligus pembesaran ikan lele
Yang akan kita bahas kali ini adalah usaha pembesaran ikan lele. Usaha pembesaran ikan lele ini relatif lebih gampang dan banyak diusahakan. Ikan lele sendiri pada dasarnya merupakan ikan yang 'bandel' yang tidak terlalu membutuhkan banyak perawatan dan relatif tahan terhadap kondisi perairan yang kurang bagus. Budidaya ikan lele bissa dilakukan dengan wadah berupa kolam tanah, kolam terpal, kolam tembok bahkan dengan drum bekas juga bisa. Akan tetapi untuk mendapatkan hasil yang bagus tentunya diperlukan kondisi lingkungan dan pakan yang juga bagus.
Berikut adalah beberapa cara budidaya ikan lele:
1. Cara Tradisional. Cara budidaya ikan lele secara tradisional umumnya dilakukan dalam kolam tanah. Cara budidaya ikan lele model ini tidak banyak memerlukan perhatian. Pemberian pakan juga dilakukan seadanya. Terkadang kolam budidaya ikan lele diletakkan tidak jauh dari jamban keluarga dan limbah dari jamban diarahkan ke kolam sebagai pakan tambahan bagi ikan lele. Cara budidaya model ini sepertinya sudah mulai ditinggalkan karena memberikan dampak psikologis yang kurang bagus terhadap pasar ikan lele. Baca juga: Cara Budidaya ikan lele, masihkah?
2. Cara budidaya ikan lele semi intensif. Cara budidaya ikan lele model ini biasanya dilakukan dalam kolam tanah, kolam tembok, maupun kolam terpal. Pembesaran ikan lele dilakukan secara terkontrol dengan pemberian pakan yang terjadwal sehingga produksi ikan lele yang dihasilkan juga lebih baik.
3. Cara budidaya ikan lele sistem tumpang sari atau budidaya ikan lele terpadu. Cara budidaya ikan lele model ini dilakukan guna mengoptimalkan usaha budidaya ikan lele yang dijalankan berbarengan dengan usaha budidaya komoditas lain. Model tumpang sari ini bisa dilakukan misalnya dengan melakukan usaha budidaya ikan lele berbarengan dengan usaha budidaya ayam, dimana kolam ikan lele berada di bawah kandang ayam. Model lainnya yaitu budidaya ikan lele yang dipadukan dengan budidaya sayuran, yang dikenal dengan yumina, dan budidaya ikan lele yang dipadukan dengan budidaya buah-buahan atau bumina. Model budidaya ikan lele terpadu ini akan memberikan manfaat ganda yaitu. Panen komoditas yang lebih banyak dan juga pemanfaatan media pemeliharaan yang lebih optimal.
4. Cara budidaya ikan lele model polikultur. Cara budidaya ikan lele model ini dilakukan dengan mengkombinasikan budidaya ikan lele dengan ikan jenis lain dalam satu kolam misalnya ikan lele dengan ikan gurame atau lele dengan ikan nila.
5. Cara budidaya ikan lele intensif. Cara budidaya ikan lele model ini dilakukan dengan melakukan budidaya ikan lele dalam kepadatan yang tinggi, sehingga hasil produksi yang dihasilkan juga lebih tinggi. Pemeliharaan dalam kepadatan tinggi tentunya memerlukan kestabilan kualitas media pemeliharaan. Teknik yang digunakan biasanya dengan metode bioflok.
Nah demikian beberapa cara budidaya ikan lele yang perlu anda ketahui. Anda bisa memilih sendiri cara budidaya ikan lele yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Salam
Lihat Daftar Isi/Peta Situs
Lihat Daftar Isi/Peta Situs
2.23.2017
Cara Budidaya Ikan Lele, Masihkah..?
Ada berbagai teknik atau cara budidaya ikan lele yang bisa dilakukan. Hal ini tergantung dari ketersediaan lahan dan fasilitas lain yang dimiliki. Pasar untuk ikan lele sendiri sebagian besar adalah untuk usaha makanan baik warung ataupun restoran
Tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang prospek pasar ikan lele ataupun teknologi budidaya ikan lele karena kayaknya sudah cukup banyak yang membahasnya. Saya hanya ingin berbagi cerita yang sebenarnya masih erat kaitannya dengan cara budidaya ikan lele .
Ini sih pengalaman teman, saya lupa persisnya kapan.. yang jelas sudah cukup lama. Ceritanya teman saya ini sedang dalam perjalanan, karena sudah lapar dan memang sudah jam makan siang dia singgah di sebuah warung makan yang menyediakan menu lalapan ikan lele. Warungnya cukup asri dan di sebelahnya juga ada kolam tempat budidaya ikan lele. "Wah pasti segar segar nih ikannya" pikirnya dalam hati. Setelah makanan dihidangkan dia pun makan dengan lahap karena makanan yang disajikan emang enak dan pas buat selera makan dia.
Setelah selesai makan dan bayar makanan dia merasa pengen ke belakang sebentar. Daripada di tengah jalan berhenti lagi, dia pikir lebih baik di situ sekalian mumpung lagi berhenti. Dia pun tanya pada pemilik warung dan ditunjukkanlah lokasi kamar kecil di samping warung. Selesai buang hajat di kamar kecil dia berhenti sebentar guna melihat - lihat kolam. Terlihat ikan lele bergerombol sepertinya sedang makan dengan lahap.
Dan...seketika kepalanya pusing dan mau muntah karena saat itu dia baru sadar kalau saluran pembuangan limbah di kamar kecil itu berakhir di kolam budidaya ikan lele. Berarti yang dia makan....
Nah.. itu pengalaman seorang teman mengenai cara budidaya ikan lele. Saya tidak tahu pasti apakah saat ini masih ada petani yang menggunakan cara budidaya ikan lele seperti itu. Karena cara budidaya seperti itu meski mungkin efisien tapi potensial menurunkan pangsa pasar ikan lele.
2.22.2017
Lebih Baik Menetaskan Artemia atau Dekapsulasi?
Artemia salina banyak dipergunakan dalam budidaya perikanan khususnya dalam usaha pembenihan. Pemakaian artemia dalam budidaya ikan baik itu ikan hias maupun ikan konsumsi memang lebih praktis karena tidak memerlukan waktu pemeliharaan yang lama. Kita tinggal menetaskan dan artemia bisa langsung diberikan pada benih ikan.
Ada dua cara yang biasa dilakukan dalam menetaskan artemia yaitu dengan menetaskan langsung dan dengan dekapsulasi. Keduanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing - masing. Lalu manakah yang mestinya kita lakukan dalam usaha budidaya ikan ini, menetaskan artemia secara langsung ataukah didekapsulasi? dan manakah yang lebih baik dari kedua cara tersebut?
Ok, kita mulai dengan kelebihan dan kekurangan masing - masing.
Kelebihan menetaskan artemia secara langsung:
1. Tidak memerlukan bahan kimia
2. Tidak ada kemungkinan terkontaminasi bahan kimia
3. Aman bagi larva dan juga pembudidaya
Kekurangan metode penetasan artemia secara langsung:
1. Waktu penetasan lebih lama
2. Kemungkinan masuknya bakteri atau parasit lebih besar
3. Jumlah nauplii yang didapat lebih sedikit
Kelebihan menetaskan artemia dengan cara dekapsulasi
1. Waktu penetasan lebih singkat
2. Lebih aman dari bakteri atau parasit
3. Jumlah nauplii yang didapat lebih banyak
Kekurangan metode penetasan artemia dengan dekapsulasi:
1. Memerlukan bahan kimia yang berarti ada tambahan biaya yang diperlukan
2. Ada kemungkinan tercemar bahan kimia jika pencucian kurang bersih
3. Ada resiko pembudidaya menghirup gas kimia.
Penggunaan bahan kimia dalam dekapsulasi membuat kista artemia lebih tipis sehingga penetasan artemia bisa dilakukan lebih cepat dan nauplii yang didapatpun akan lebih banyak. akan tetapi hal ini akan sangat tergantung pada ketepatan pemakaian bahan kimia. Kelebihan dosis atau kelamaan waktu perendaman dengan larutan chlorin bisa memberi dampak yang sebaliknya yaitu nauplii yang didapat akan lebih sedikit. Penggunaan bahan kimia berupa larutan chlorin, meski dampaknya mungkin kecil, tapi bagaimanapun ada resiko bagi pembudidaya menghirup gas dari bahan kimia yang digunakan. Tentunya hal ini bisa diminimalisir dengan menggunakan pengaman dalam bekerja misalnya dengan memakai sarung tangan dan masker. Hal ini tentunya tidak akan ditemui jika menggunakan metode penetasan secara langsung karena prosesnya lebih alami. Metode dekapsulasi diyakini dapat mengurangi kemungkinan masuknya bakteri atau parasit yang timbul pada proses penetasan artemia secara alami karena penggunaan larutan chlorin sekaligus berfungsi sebagai desinfektan. Namun dengan dekapsulasi ada juga kemungkinan bahan kimia ikut terbawa jika pencucian dilakukan kurang bersih atau dosis dan waktu pemakaian yang tidak pas (terlalu lama).
Lalu manakah yang lebih baik dari kedua metode penetasan artemia tersebut? Menetaskan secara langsung atau dekapsulasi? Jawabannya akan sangat tergantung pada kebutuhan dan keterampilan pembudidaya. Menetaskan artemia secara langsung relatif lebih aman dan mudah meski waktunya lebih lama. Kemungkinan masuknya bakteri dan parasit juga bisa diminimalisasi dengan pencucian pada akhir pemanenan atau melakukan perendaman dengan pemberian antibiotik. Dekapsulasi memerlukan ketepatan konsentrasi larutan dan waktu perendaman/pencucian agar bisa berhasil dengan baik. Metode yang tepat akan memberikan nauplii yang lebih banyak dan lebih bersih (suci hama). Jika kita bandingkan dengan sistem budidaya ikan pada umumnya. Menetaskan artemia secara langsung akan mirip dengan extensifikasi sedangkan dekapsulasi akan dekat dengan intensifikasi. Semua dengan kelebihan dan kekurangan masing - masing. Mana yang lebih baik? Silahkan anda pilih sendiri. Salam
Lihat Daftar Isi/Peta Situs untuk melihat tulisan tulisan lain yang ada di sini
Lihat Daftar Isi/Peta Situs untuk melihat tulisan tulisan lain yang ada di sini
Subscribe to:
Posts (Atom)