9.10.2015

Potensi Perikanan Darat

Indonesia merupakan negara yang kaya akan potensi perikanan. Selain memiliki potensi perikanan laut yang besar Indonesia juga memiliki potensi perikanan darat yang cukup besar. Potensi perikanan darat (air tawar) dapat dibedakan atas potensi perikanan pada perairan umum, seperti danau, waduk, sungai dan rawa dan potensi perikanan kolam dan budidaya mina padi.

Potensi perikanan darat di Indonesia dapat dibagi menjadi potensi perikanan di perairan umum dan potensi budidaya perikanan di kolam atau tambak. Dari perairan umum terutama diproduksi berbagai jenis ikan tangkapan dari alam, dan baru beberapa dekade terakhir ini sebagian kecil telah dibudidayakan secara komersial. Terutama dari waduk-waduk dan sebagian danau di Jawa dan Sumatera dalam rupa budidaya jaring-keramba apung untuk menghasilkan ikan-ikan mas (Cyprinus), nila (Tilapia) dan belakangan juga patin (Pangasius). Budidaya perikanan di perairan umum hampir sepenuhnya bergantung pada alam. Salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya perikanan di perairan umum adalah pengelolaan pemanfaatan perairan tersebut dengan baik.

Tidak seperti budidaya perikanan di laut, lahan untuk budidaya perikanan di darat lebih terbatas.Sungai tak bisa dimanfaatkan untuk budidaya dalam skala besar, yang paling banyak dilakukan adalah karamba sederhana .Apalagi tingkat pencemaran air sungai saat ini relatif tinggi, jadi diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk meningkatkan kualitas budidaya perikanan di sungai. Belum lagi jika pada musim hujan pada umumnya selalu terjadi peningkatan aliran air karena curah hujan yang tinggi dengan membawa serta lumpur dan sampah yang tentunya sangat menurunkan kualitas air di sungai.

Danau dan waduk juga terbatas jumlahnya. Sedangkan untuk membangun kolam-kolam perlu tambahan investasi untuk pengadaan lahan dan biaya pembangunannya. Seperti halnya di bidang pertanian, peningkatan budidaya perikanan secara intensifikasi lebih diharapkan daripada budidaya perikanan dengan ekstensifikasi, mengingat keterbatasan lahan tadi.

Disamping itu bisa juga diupayakan usaha tumpang sari misalnya ikan dan tanaman seperti minapadi atau budidaya yumina-bumina, atau melakukan tumpang sari antara ikan dengan hewan ternak misalnya dengan ayam (dikenal dengan kolong ayam/longyam).

Lihat tulisan lain di Peta Situs/Daftar Isi

Pemilihan Pakan Ikan

     Dalam sistem produksi, pakan yang baik memegang peranan yang sangat penting dalam usaha memproduksi ikan yang sehat dan berkualitas tinggi. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari biaya produksi secara keseluruhan. Pakan ikan telah berkembang secara dramatis pada tahun- tahun terakhir ini dengan perkembangan baru yaitu pakan komersial yang seimbang dan merangsang ikan untuk tumbuh optimal dan sehat.Perkembangan spesies baru dalam budidaya juga telah diimbangi dengan perkembangan industri pakan yang baru untuk mengimbangi permintaan, untuk mendukung industri perikanan yang aman, sehat, dan berkualitas tinggi.
  
     Pemilihan pakan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas budidaya perikanan sekaligus dapat meingkatkan keuntungan. Jenis pakan ikan dapat berupa pakan alami dan buatan. Pakan alami adalah pakan hidup bagi larva ikan atau ikan konsumsi. Pakan alami dapat berasal dari jenis phytoplankton, zooplankton, invertebrata mikroskopik atau benatang renik lainnya. Jenis pakan alami yang dapat dimakan oleh ikan sangat bervariasi, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya.
 
     Benih ikan yang baru belajar mencari makan, pertama-tama yang mereka makan umumnya plankton (fitoplankton/zooplankton). Kemudian semakin bertambah besar ikannya, makanannya pun mulai berubah pula. Pakan hidup mengandung banyak serat, sehingga bagus untuk menjaga kesehatan pencernaan ikan. Pakan hidup juga dapat membantu ikan untuk memasuki masa kawin dan merangsang masa kawin.

    Pakan alami biasanya berasal dari jenis plankton, (fitoplankton maupun zooplankton). Dari jenis fitoplankton, misalnya Diatom. Dari jenis zooplankton, misalnya Rotifera, Cladocera.Diatom adalah ganggang (alga) suatu jasad renik yang termasuk dalam divisi Thallophyta, subdivisi Algae, kelas Diatomae. Jenis alga kelompok Diatomae banyak digunakan dalam usaha pembenihan udang. Hal ini disebabkan alga dari kelompok ini mudah dibudidayakan dan mudah dicerna oleh larva udang. Mengapa Diatomae mudah dicerna oleh larva udang? Karena kelompok Diatomae memiliki dinding sel yang tipis.
 
    Rotifera termasuk ke dalam kelompok zooplankton dalam filum Trochelminthes. Secara alami Rotifera memakan jasad-jasad renik yang lebih kecil dari dirinya, seperti ganggang renik, ragi, bakteri dan Protozoa. Cara mengambil makanan dilakukan dengan menggerakkan buIu-buIu getar pada koronanya sehingga menimbulkan arus air yang membawa serta makanannya tersebut ke dalam mulut. Dengan cara makan seperti itu rotifera sangat mudah dibuat sebagai kapsul hidup. Dengan memberikan makanan yang kaya dengan zat gizi, mak kandungan gizi rotifera juga akan dapat ditingkatkan dengan mudah. 

    Daphnia (1000 - 5000 mikron) biasa dikenal dengan nama kutu air termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Entomostraca, ordo Phylopoda, subordo Cladocera. Ciri khas kutu air ini adalah bentuk tubuhnya yang gepeng dari samping ke samping. Dinding tubuh bagian punggung membentuk suatu lipatan yang menutupi bagian tubuh, beserta anggota-anggota tubuhnya pada kedua belah sisinya, sehingga nampak seperti sebuah cangkang pada kerang-kerangan Mollusca. Di atas bagian belakang cangkang tersebut membentuk sebuah kantong. Kantong ini berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur.

     Artemia adalah udang-udangan primitif yang termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Branchiopoda, ordo Anostraca, familia Artemiidae. Secara alami, cara makan adalah dengan menyaring mangsanya , maka diperlukan makanan dengan ukuran partikel khusus, yaitu yang berukuran lebih kecil dari 60 mikron.

     Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dipabrik dengan bahan-bahan yang siap pakai. Persiapan pakan buatanharus komplit dan suplemental.Pakan yang dianggap komplit harus dapat menyediakan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kesehatan ikan secara optimal. Beberapa pembudidaya ikan menggunakan pakan komplit yang berisi protein yang dibutuhkan 18-50%; lemak 10-25%; karbohidrat 15-20%; abu kurang dari 8,5%, fosfor kurang dari 1.5%, air kurang dari 10%, dan sejumlah vitamin dan mineral. Jika ikan dipelihara dalam kepadatan tinggi di dalam ruangan (indoor) atau karamba secara terkontrol tidak dapat dibiarkan henya dengan pakan alami, melainkan harus meggunakan pakan buatan yang komplit. Sebaliknya pakan buatan yang tidak komplit, diberikan hanya sebagai rangsangan untuk pertumbuhan pakan alami (alga, insekta, dan ikan kecil) yang cocok untuk pemeliharaan ikan di kolam.Pakan tambahan tidak berisi komponen vitamin dan mineral, tetapi digunakan untuk memantu menyediakan protein, karbohidrat, dan atau lemak secara alami.

Lihat Daftar Isi/Peta Situs untuk melihat artikel lain selengkapnya

7.17.2014

Inovasi Teknologi Perikanan

Definisi inovasi teknologi perikanan

 Inovasi adalah suatu ide, perilaku, produk, informasi dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan/diterapkan/dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat.

Teknologi adalah kumpulan berbagai kemungkinan produksi, teknik, metode dan proses yang dapat merubah sumber daya menjadi sesuatu yang lebih baik, efisien dan efektif, guna memenuhi kebutuhan manusia.

Jadi Inovasi teknologi perikanan dapat didefenisikan sebagai kegiatan manusia yang timbul dari sesuatu ide dan praktik-praktik baru yang belum banyak diketahui dapat mendorong terjadinya perubahan dalam kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya yang dilaksanakan dalam suatu bisnis perikanan.

Tujuan inovasi teknologi perikanan adalah agar dapat mengembangkan usaha perikanan menjadi lebih efektif, efisien, ekonomis, berdaya saing tinggi, ramah lingkungan dan menghargai kearifan tradisi/budaya lokal.

Strategi yang dilakukan dalam pengembangan teknologi perikanan adalah dengan melakukan hal-hal berikut :
  • Penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan menyempurnakan teknologi yang telah ada untuk menghasilkan teknologi baru sesuai sumberdaya dan kemampuan setempat.
  • Penelitian dan pengembangan untuk memilih, merencanakan, menerapkan dan menyempurnakan teknologi impor.
  • Penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan teknologi yang super efisien,
  • Inovasi teknologi yang mengarah pada eksplorasi jenis-jenis komoditas ekonomis/unggulan yang potensial (resources based strategy) serta penerapan pengelolaan usaha yang makin efisien dan menekan risiko.
  • Inovasi teknologi kembali ke masa depan (back to the future)yaitu mempelajari/menganalisa kesalahan-kesalahan/kekurangan-kekurangan yang telah kita lakukan di masa lalu (back) untuk dijadikan panduan perbaikan di masa datang (to the future).
  • Inovasi teknologi ramah lingkungan yaitu teknologi yang tidak mencemari lingkungan dan tidak berbahaya bagi makhluk hidup, disebut juga teknologi yang bersahabat dengan lingkungan. 
  • Inovasi teknologi yang efektif, efisien, ekonomis, biaya rendah (low cost technology) mampu dan berdaya saing tinggi di pasar global.

7.16.2014

Budidaya Rumput Laut



Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya unggulan di Indonesia. Rumput laut yang telah menjadi komoditas budidaya ada 2 jenis, yaitu Gracilaria spp dan Eucheuma spp. Dalam upaya meningkatkan kontribusi rumput laut terhadap pembangunan nasional maka pemerintah menetapkan strategi sebagai berikut :

1. Pengembangan secara bertahap di daerah potensial

2. Penyediaan bibit yang cukup dan berkualitas

3. Pembinaan yang intensif

4. Pendekatan sistem bisnis perikanan

Budidaya rumput laut merupakan salah satu budidaya perikanan yang diharapkan sebagai andalan dan memberi kontribusi yang besar bagi peningkatan produksi bidang perikanan Indonesia. Selama ini metode yang digunakan untuk budidaya rumput laut ada 3 macam, yaitu:
 
1. Metode lepas dasar dengan menggunakan patok-patok kayu

2. Metode rakit dengan menggunakan kerangka bambu

3. Metode tali rentang dengan menggunakan tali dan pelampung

Untuk budidaya dengan metode tali dan pelampung, dapat dilakukan dengan peralatan yang sederhana yaitu dengan menggunakan botol air mineral bekas ukuran 600 dan 1500 ml. Penggunaan botol bekas ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain :

1. Murah dan mudah didapat

2. Memanfaatkan limbah

3. Aman, tidak ada yang mencuri, karena harganya murah

Dalam teknik budidaya rumput laut, yang harus diperhatikan adalah tempat rumput laut mengapung tidak boleh tepat di permukaan air, melainkan harus berada pada kedalaman 10 – 15 cm di bawah permukaan air. Hal lain yang perlu mendapat perhatian selama masa pemeliharaan rumput laut adalah menjaga kebersihan rumput laut dari lumpur dan kotoran.

Salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan budidaya rumput laut adalah pemilihan lokasi. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut adalah faktor resiko, faktor pencapaian dan faktor ekologis. Pemilihan lokasi budidaya tersebut harus dilakukan secara tepat dengan mempertimbangkan karakter laut yang akan digunakan sebagai lokasi budidaya. Misalnya saja lokasi di sekitar pelabuhan tentunya tidak bias digunakan sebagai lokasi budidaya karena akan menggangu dan terganggu oleh aktifitas pelabuhan

Dalam budidaya rumput laut, kegiatan pemeliharaan yang dilakukan selama pertumbuhan rumput laut yaitu membersihkan lmpur dan kotoran yang melekat pada rumput laut, menyulam tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan, mengganti tali, dan pelampung yang rusak, serta menjaga tanaman dari serangan predator, seperi ikan dan penyu. 


Lihat Daftar Isi/Peta Situs
  

7.15.2014

Plankton

Kata plankton pertama kali digunakan oleh Hensen pada tahun 1887. Dalam bidang perikanan, yang dimaksud plankton adalah jasad-jasad renik yang melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak sedikit, dan selalu mengikuti arus

Banyak jenis hewan yang menghabiskan sebagian daur hidupnya sebagai plankton, khususnya pada tahap larva. Plankton kelompok ini disebut meroplankton karena setelah tahap dewasa berubah menjadi bentos atau berenang bebas sebagai nekton. Plankton yang sepanjang hidupnya tetap sebagai plankton disebut kelompok Holoplankton.
  
Plankton dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu: 

 
1. Fitoplankton (plankton nabati)


Fitoplankton adalah golongan plankton yang masuk dalam kelompok tumbuhan. Fitoplankton mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya. 

Karakteristik Fitoplankton, antara lain :
  • Membentuk sejumlah besar biomassa di laut tetapi yang termasuk fitoplankton hanya terdiri dari beberapa filum saja.
  • Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik yaitu termasuk filum Chrysophyta (alga kuning-hijau) meliputi diatom dan kokolitofor
  • Terdapat beberapa jenis alga biru-hijau (Cyanophita), alga coklat (Phaeophyta) dan Dinoflagellata (Pyrophyta). 
 
2. Zooplankton 


Zooplankton adalah plankton yang termasuk dalam kelompok hewan atau binatang. Zooplankton tidak mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya. Sebagaimana hewan-hewan lain, zooplankton juga tidak dapat melakukan fotosintesis atau membuat makanannya sendiri. 

Karakteristik Zooplankton, antara lain :

  • Jumlah jenis dan kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan fitoplankton.
  • Ukuran sangat beragam, dari yang sangat renik sampai yang berdiameter lebih dari 1 cm.
  • Sebagian hidup sebagai meroplankton dan sebagian hidupnya dalam bentuk plankton. 

Plankton, jika dikelompokan berdasarkan ukuran, adalah sebagai berikut: 

  1. Makroplankton, ukurannya 200-2000 mikron
  2. Mikroplankton, ukurannya 20-200 mikron
  3. Nanoplankton, ukurannya 2-20 mikron
  4. Ultra nannoplankton, ukurannya kurang dari 2 mikron.

Pada perairan bebas terkadang terjadi blooming plankton yang dapat berakibat kurang baik bagi organisme perairan. Beberapa jenis plankton ada yang bersifat toxic dan jika terdapat dalam kepadatan tinggi dapat menyebabkan kematian ikan. Kondisi ini disebut juga sebagai red tide atau Harmful algal blooms (HABs).

Blooming plankton juga dapat mengakibatkan turunnya kadar oksigen terlarut (DO) dalam perairan hingga ke batas konsentrasi yang dapat mengakibatkan kematian pada ikan. 

Selain itu blooming plankton juga dapat mengakibatkan kerusakan insang pada ikan.

Lihat Peta Situs/Daftar Isi untuk melihat tulisan - tulisan lainnya