Tentang Ikan, Cara Budidaya Ikan, dan segala hal yang berhubungan dengan Perikanan dan Budidaya Perairan (Akuakultur)
7.16.2014
Budidaya Rumput Laut
Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya unggulan di Indonesia. Rumput
laut yang telah menjadi komoditas budidaya ada 2 jenis, yaitu Gracilaria spp
dan Eucheuma spp. Dalam upaya meningkatkan kontribusi rumput laut terhadap
pembangunan nasional maka pemerintah menetapkan strategi sebagai berikut :
1. Pengembangan secara bertahap di daerah potensial
2. Penyediaan bibit yang cukup dan berkualitas
3. Pembinaan yang intensif
4. Pendekatan sistem bisnis perikanan
Budidaya rumput laut merupakan salah satu budidaya perikanan yang diharapkan sebagai andalan dan memberi kontribusi yang besar bagi peningkatan produksi bidang perikanan Indonesia. Selama ini metode yang digunakan untuk budidaya rumput laut ada 3 macam, yaitu:
1. Metode lepas dasar dengan menggunakan patok-patok kayu
2. Metode rakit dengan menggunakan kerangka bambu
3. Metode tali rentang dengan menggunakan tali dan pelampung
Untuk budidaya dengan metode tali dan pelampung, dapat dilakukan dengan peralatan yang sederhana yaitu dengan menggunakan botol air mineral bekas ukuran 600 dan 1500 ml. Penggunaan botol bekas ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain :
1. Murah dan mudah didapat
2. Memanfaatkan limbah
3. Aman, tidak ada yang mencuri, karena harganya murah
Dalam teknik budidaya rumput laut, yang harus diperhatikan adalah tempat rumput laut mengapung tidak boleh tepat di permukaan air, melainkan harus berada pada kedalaman 10 – 15 cm di bawah permukaan air. Hal lain yang perlu mendapat perhatian selama masa pemeliharaan rumput laut adalah menjaga kebersihan rumput laut dari lumpur dan kotoran.
Salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan budidaya rumput laut adalah pemilihan lokasi. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut adalah faktor resiko, faktor pencapaian dan faktor ekologis. Pemilihan lokasi budidaya tersebut harus dilakukan secara tepat dengan mempertimbangkan karakter laut yang akan digunakan sebagai lokasi budidaya. Misalnya saja lokasi di sekitar pelabuhan tentunya tidak bias digunakan sebagai lokasi budidaya karena akan menggangu dan terganggu oleh aktifitas pelabuhan
Dalam budidaya rumput laut, kegiatan pemeliharaan yang dilakukan selama pertumbuhan rumput laut yaitu membersihkan lmpur dan kotoran yang melekat pada rumput laut, menyulam tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan, mengganti tali, dan pelampung yang rusak, serta menjaga tanaman dari serangan predator, seperi ikan dan penyu.
Lihat Daftar Isi/Peta Situs
7.15.2014
Plankton
Kata plankton pertama kali digunakan
oleh Hensen pada tahun 1887. Dalam bidang perikanan, yang dimaksud plankton adalah jasad-jasad renik yang melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak
sedikit, dan selalu mengikuti arus
Banyak jenis hewan yang menghabiskan sebagian daur
hidupnya sebagai plankton, khususnya pada tahap larva. Plankton kelompok ini
disebut meroplankton karena setelah tahap dewasa berubah menjadi bentos atau
berenang bebas sebagai nekton. Plankton yang sepanjang hidupnya tetap sebagai
plankton disebut kelompok Holoplankton.
Plankton dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:
1. Fitoplankton (plankton nabati)
Fitoplankton adalah golongan plankton yang masuk dalam kelompok tumbuhan. Fitoplankton mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya.
Karakteristik Fitoplankton, antara lain :
2. Zooplankton
Zooplankton adalah plankton yang termasuk dalam kelompok hewan atau binatang. Zooplankton tidak mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya. Sebagaimana hewan-hewan lain, zooplankton juga tidak dapat melakukan fotosintesis atau membuat makanannya sendiri.
Karakteristik Zooplankton, antara lain :
Plankton, jika dikelompokan berdasarkan ukuran, adalah sebagai berikut:
Plankton dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:
1. Fitoplankton (plankton nabati)
Fitoplankton adalah golongan plankton yang masuk dalam kelompok tumbuhan. Fitoplankton mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya.
Karakteristik Fitoplankton, antara lain :
- Membentuk sejumlah besar biomassa di laut tetapi yang termasuk fitoplankton hanya terdiri dari beberapa filum saja.
- Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik yaitu termasuk filum Chrysophyta (alga kuning-hijau) meliputi diatom dan kokolitofor
- Terdapat beberapa jenis alga biru-hijau (Cyanophita), alga coklat (Phaeophyta) dan Dinoflagellata (Pyrophyta).
2. Zooplankton
Zooplankton adalah plankton yang termasuk dalam kelompok hewan atau binatang. Zooplankton tidak mempunyai klorofil (zat hijau daun) di dalam tubuhnya. Sebagaimana hewan-hewan lain, zooplankton juga tidak dapat melakukan fotosintesis atau membuat makanannya sendiri.
Karakteristik Zooplankton, antara lain :
- Jumlah jenis dan kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan fitoplankton.
- Ukuran sangat beragam, dari yang sangat renik sampai yang berdiameter lebih dari 1 cm.
- Sebagian hidup sebagai meroplankton dan sebagian hidupnya dalam bentuk plankton.
Plankton, jika dikelompokan berdasarkan ukuran, adalah sebagai berikut:
- Makroplankton, ukurannya 200-2000 mikron
- Mikroplankton, ukurannya 20-200 mikron
- Nanoplankton, ukurannya 2-20 mikron
- Ultra nannoplankton, ukurannya kurang dari 2 mikron.
Pada perairan bebas terkadang terjadi blooming plankton yang dapat berakibat kurang baik bagi organisme
perairan. Beberapa jenis plankton ada yang bersifat toxic dan jika terdapat
dalam kepadatan tinggi dapat menyebabkan kematian ikan. Kondisi ini disebut
juga sebagai red tide atau Harmful algal blooms (HABs).
Blooming plankton juga dapat mengakibatkan turunnya kadar
oksigen terlarut (DO) dalam perairan hingga ke batas konsentrasi yang dapat
mengakibatkan kematian pada ikan.
Selain itu blooming plankton juga dapat mengakibatkan
kerusakan insang pada ikan.
Lihat Peta Situs/Daftar Isi untuk melihat tulisan - tulisan lainnya
Lihat Peta Situs/Daftar Isi untuk melihat tulisan - tulisan lainnya
11.14.2011
Ikan Klon
| Gambar Ikan klon. Ikan klon betina memiliki ukuran yang lebih besar (atas), jika dibandingkan dengan ikan klon jantan (bawah). |
Ikan klon atau clown fish merupakan salah satu jenis ikan hias laut yang disukai banyak orang di dunia sebagai pengisi akuarium air laut. Ikan klon atau ikan badut sering juga disebut sebagai ikan klon biasa atau ikan nemo yang diambil dari nama tokoh dalam sebuah film. Dalam literatur berbahasa Inggris diantaranya disebut sebagai common clownfish atau false-clown anemone fish. Nama latin ikan klon adalah Amphiprion ocellaris (Cuvier, (1830) dalam McGrouther, M. 2010). Ikan klon memiliki tubuh berwarna oranye/jingga dengan tiga belang/ban berwarna putih pada bagian kepala, badan dan pangkal ekornya.
Ikan klon betina memiliki ukuran tubuh yang lebih besar jika dibandingkan dengan ikan klon jantan. Hal ini tidak terlepas dari sifat karakteristrik reproduksinya dimana ikan klon memiliki karakteristik reproduksi hermaprodit protandri. Hal ini berarti bahwa setiap individu ikan klon terlahir sebagai ikan jantan namun memiliki juga organ reproduksi betina yang belum berkembang. Seiring dengan pertambahan ukuran dan umurnya ikan jantan akan berubah menjadi ikan betina (Berends, B. 2007) . Berikut adalah taksonomi ikan clown:
Species : Ocellaris
Genus : Amphiprion
Family : Pomacentridae
Ordo : Perciformes
Sub class : Actinopterygii
Class : Pisces
Sub phylum : Vertebrata
Phylum : Chordata
Kingdom : Animalia
Menurut Soehartono(1985), pemijahan ikan klon di daerah tropis dapat terjadi sepanjang tahun, pemijahannya hanya berlangsung beberapa hari selama bulan terang. Sedangkan dalam pemeliharaan di akuarium diketahui bahwa ikan klon dapat memijah dengan frekuensi rata-rata sebanyak 2 kali dalam sebulan (Suarsana, 2010).
Lihat Peta Situs/Daftar Isi untuk mengetahui tulisan lain di Peribudi
Lihat Peta Situs/Daftar Isi untuk mengetahui tulisan lain di Peribudi
Referensi:
Berends, B. 2007. Amphiprion ocellaris. http://bioweb.uwlax.edu/bio203/s2007/berends_bets/Amphiprion ocellaris .htm
McGrouther, M. 2010. Animal species: False-Clown Anemonefish, Amphiprion ocellaris (Cuvier,1830). http://australianmuseum.net.au/False-Clown-Anemonefish-Amphiprion-ocellaris-Cuvier-1830.
Suarsana, I K. 2010. Teknik Pemeliharaan dan Pemijahan Ikan Clown (Amphiprion Ocellaris). Prosiding Pertemuan Teknis Teknisi Litkayasa Kementerian Kelautan dan Perikanan (131-134). Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Soehartono, L. 1985. Akuarium air laut. C.V Fajar Abadi. Jakarta.
11.13.2011
Pengembangan Perikanan Budidaya
Sebagai Negara kepulauan Indonesia memang memiliki potensi
perikanan tangkap yang cukup besar. Akan tetapi sektor perikanan budidaya harus tetap dikembangkan. Usaha budidaya perikanan
diperlukan karena:
Untuk mengembangkan perikanan budidaya ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, yaitu:
Lihat Daftar Isi/Peta Situs untuk mengetahui artikel lain yang ada di sini
Referensi
De Silva, S.S. (2000). A Global Perspective of Aquaculture in The New Millenium. International Conference on Aquaculture in The Third Millenium (Book of Synopsis), 20-25 February, 2000 Bangkok, Thailand.
- Kebutuhan akan hasil perikanan sangat tinggi, baik untuk kebutuhan pangan maupun non pangan. Jika dikembangkan dengan baik budidaya perikanan bisa menjadi alternatif pemenuhan pangan masyarakat dan juga sebagai sumber penghasilan. Peningkatan jumlah penduduk tentunya juga akan meningkatakan kebutuhan akan produk perikanan terlebih lagi dengan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat akan kelebihan dari produk perikanan bagi kesehatan.
- Potensi lahan Yang cukup besar yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya perikanan. Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang cukup besar, baik itu budidaya perikanan darat atau budidaya perairan tawar, budidaya perairan payau maupun budidaya perikanan laut atau budidaya perairan asin. Segenap potensi yang dimiliki tersebut tentunya harus bisa dimanfaatkan secara optimal.
- Usaha penangkapan memiliki hambatan yang cukup besar karena penurunan stok ikan di alam juga karena adanya kenaikan biaya sebagai akibat dari naiknya harga BBM. Usaha budidaya justru memiliki kelebihan seperti; hasil panen dan komoditas yang bisa diatur, juga bisa dilakukan secara terpadu dengan kegiatan lain seperti mina padi, budidaya sistem yumina dll.
- Penangkapan ikan secara terus menerus untuk memenuhi kebutuhan akan ikan akan mengakibatkan terjadinya ”over fishing” yang berimbas pada penurunan populasi ikan, sehingga hasil tangkapan ikan akan terus berkurang. Penangkapan ikan secara terus menerus juga dihawatirkan akan mengakibatkan beberapa spesies tertentu akan mengalami kepunahan. Untuk itu pengembangan perikanan budidaya merupakan salah satu strategi yang bisa ditempuh ditempuh dalam pembangunan perikanan nasional karena perikanan budidaya dapat dijadikan sebagai andalan produksi di masa depan untuk menggantikan peran perikanan tangkap. Hal ini sesuai dengan perkembangan produksi perikanan tangkap dunia yang menurut De Silva (2000) cenderung stagnan bahkan menurun, sebaliknya perolehan dari perikanan budidaya cenderung meningkat.
Untuk mengembangkan perikanan budidaya ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, yaitu:
- Faktor sumber daya alam, seperti status dan letak tanah, ketersediaan air, kemiringan dll. Budidaya perikanan tidak mungkin atau akan sangat sulit jika dilakukan di tempat yang jauh dari sumber air. Baik itu sumber air tawar untuk perikanan darat maupun sumber air asin untuk perikanan laut.
- Faktor biologi, misalnya benih ikan. Ketersediaan bibit ataupun indukan untuk menghasilkan bibit juga mesti diperhatikan. Usaha pembesaran ikan akan terganggu jika benih yang akan digunakan ketersediaannya sangat tidak menentu. Selain itu juga diperlukan pengenalan jenis jenis ikan yang ekonomis untuk dibudidayakan.
- Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, misalnya teknik pembuatan pakan, penanggulangan penyakit dll.Ilmu pengetahuan dan teknologi juga memegang peranan yang sangat penting dalam budidaya perikanan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang harmonis antara petani pembudidaya dengan lembaga penelitian di bidang perikanan dalam hal inovasi teknologi yang mampu memberikan peningkatan kualitas dan kuantitas produk budidaya perikanan yang dihasilkan.
- Faktor sosial ekonomi dan budaya, misalnya kesukaan masyarakat akan spesies ikan tertentu, dampak atau adanya perubahan lingkungan karena adanya usaha budidaya. Masyarakat di beberapa daerah yang berbeda mungkin akan memiliki selera yang berbeda terhadap jenis ikan tertentu. Untuk itu pengembangan perikanan budidaya di suatu daerah harus juga mempertimbangkan faktor tersebut agar produk perikanan budidaya yang dihasilkan dapat diterima pasar.
Lihat Daftar Isi/Peta Situs untuk mengetahui artikel lain yang ada di sini
Referensi
De Silva, S.S. (2000). A Global Perspective of Aquaculture in The New Millenium. International Conference on Aquaculture in The Third Millenium (Book of Synopsis), 20-25 February, 2000 Bangkok, Thailand.
11.09.2011
Pengertian Budidaya Perikanan/Budidaya Perairan/Akuakultur
Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut juga sebagai budidaya perairan atau akuakultur mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja tetapi juga organisme air lain seperti kerang, udang maupun tumbuhan air.
Dilihat dari asal katanya, istilah akuakultur diambil dari istilah dalam Bahasa Inggris yaitu Aquaculture. Terdapat beberapa definisi akuakultur seperti dikemukakan dalam beberapa sumber, dan berikut ini adalah definisi akuakultur menurut beberapa ahli:
Dilihat dari asal katanya, istilah akuakultur diambil dari istilah dalam Bahasa Inggris yaitu Aquaculture. Terdapat beberapa definisi akuakultur seperti dikemukakan dalam beberapa sumber, dan berikut ini adalah definisi akuakultur menurut beberapa ahli:
- Akuakultur merupakan suatu proses pembiakan organisme perairan dari mulai proses produksi, penanganan hasil sampai pemasaran(Wheaton, 1977).
- Akuakultur merupakan upaya produksi biota atau organisme perairan melalui penerapan teknik domestikasi (membuat kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan), penumbuhan hingga pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi (Bardach, dkk., 1972).
- Akuakultur merupakan proses pengaturan dan perbaikan organisme akuatik untuk kepentingan konsumsi manusia (Webster’s Dictionary, 1990).
Berdasarkan kata penyusunnya budidaya perikanan tentunya tersusun dari dua kata yakni budidaya dan perikanan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Budidaya adalah usaha yang bermanfaat dan memberikan hasil, Sedangkan perikanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penangkapan, pemeliharaan dan pembudidayaan ikan. Jadi budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan ikan guna mendapatkan manfaat atau hasil.
Seperti yang telah dikemukakan di atas, dalam bidang perikanan pada umumnya ikan didefinisikan secara luas tidak hanya merujuk pada binatang air yang bersisik dan bernafas dengan insang, akan tetapi juga menyangkut segala organisme yang hidup di air seperti udang , kerang, hingga tanaman air.
Manfaat atau hasil yang diharapkan dari kegiatan pemeliharaan ikan juga bisa berupa produksi ikan yang bisa dijual, atau bisa juga untuk keperluan konsumsi sendiri. Disamping itu kegiatan budidaya perikanan juga bisa memberikan manfaat secara psikologis sebagai penyaluran hobi atau untuk hiburan, misalnya pada budidaya ikan hias.
Manfaat atau hasil yang diharapkan dari kegiatan pemeliharaan ikan juga bisa berupa produksi ikan yang bisa dijual, atau bisa juga untuk keperluan konsumsi sendiri. Disamping itu kegiatan budidaya perikanan juga bisa memberikan manfaat secara psikologis sebagai penyaluran hobi atau untuk hiburan, misalnya pada budidaya ikan hias.
Lihat Peta situs/daftar isi perikanan budidaya untuk mengetahui tulisan lain yang ada di sini
Sumber:
Sumber:
Bardach, J.E., Ryther, J.H., and W.L.Mc. Larney. (1972). Aquaculture . Birmingham, Alabama: Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn University
Wheaton, F.W. (1977). Aquacultural Engineering. New York: John Willey& Sons.
Webster’s New World Dictionary. (1990). College ed. New York: The World Publ. Co.
Subscribe to:
Posts (Atom)